Sunday, 29 June 2014

Pelangi




Merah jingga kuning hijau biru nila ungu yang kita pandangi itu adalah kenangan gerimis. Betapa kenangan bisa begitu indah.

Rental hati


Kamu yang kerap kali menandai hujan deras sebagai album kenangan, tersenyum-senyum di jendela kamar, apakah kamu yakin kalau bahkan dia punya fotomu dalam albumnya? Kamu yang menganggap gerimis adalah fragmen tipis pengingat hari-hari bersama, apakah kamu bisa memastikan kalau dia  ingat salah satu momen saja? Bahkan jika bagi semua, petir adalah keganasan, maka bagimu, petir barangkali lampu flip flop penerang satu dua cerita kebahagiaan.

Kamu yang sudah siap menunggu senja bahkan dari 2 jam sebelum matahari tergelincir, apakah kamu percaya bahwa waktu berharapmu tidak sia-sia? Kamu yang habiskan seratus delapan puluh derajat jarum jam bergerak mengusahakan terbaik untuknya, apakah kamu bisa jamin kalau dia akan dedikasikan satu kali putaran jarum menit saja untuk bersedia berbincang? Ada yang selalu menunggu. Selalu menunggu untuk selanjutnya mengetahui bahwa  orang yang kamu tunggu tidak akan pernah datang. Sudah kukatakan kamu bebal.

Bagimu yang menuliskan aksara tentangnya berlembar-lembar, apakah kamu bisa jamin dia pernah tuliskan namamu satu kali saja? Bagimu yang mengharu biru di mention atau di tag bersama, apakah kamu tidak sedang mencurigai bahwa dia hanya menyempatkan membuka notifikasi dan merasa tidak ada yang istimewa? Bagimu yang diam-diam berburu fotonya, apakah kamu benar-benar berpuas dengan mengaguminya dari jauh dan mengulum senyum membuka folder demi folder?

Bagimu yang pernah dibantu atau ditemani, apakah lemah lembutnya yang sekali itu lantas mewakili semua biasa-biasanya dia padamu? Oh bagimu yang mengais mimpi sendirian, renungkanlah sekali lagi, apa iya kamu akan terus-terusan menahan kilat mata itu di depannya? Apa iya besok hari, lusanya, minggu depan, bulan depan, semester depan, kamu akan secara sukarela besikap biasa saja sedang perempuan di depan sana sedang tertawa renyah bersamanya? Bagimu yang merapal doa dengan sedu sedan, apa iya kamu tetap mendoa untuknya sedang menguatkan dirimu saja kau habiskan rintih doa hingga subuh? Sadar. Kau diajarkan siapa, hah? Diajarkan siapa untuk meminjami hati?

Saturday, 3 May 2014

#averylatepost



Jadi ceritanya kamu tidak mau terang-terangan. Kue ulang tahun itu malah diantar bapak O’jack berseragam kuning. Mana aku hanya disuruh menerima tanpa diperbolehkan tahu siapa pengirimnya. Yaa padahal kalau kamu sendiri yang mengetuk pintu kos, aku juga tidak terlalu menjamin berani membukanya hehe. Yang mengherankan, kamu kok sampe betah-betahnya tidak menceritakan pada siapapun, hingga tanda tentang siapa tak bisa aku eja. Hingga tanda tentang siapa, aku takut aku lupa.

Kenapa begitu bertahan hingga sekarang tidak memberitahu, kamu?

Enigma


“Kau selalu tampak sibuk kesana kemari”
“Aku tak sibuk, hanya orang lain saja yang barangkali lebih setia berada di tempat yang sama”
“Ya kan kau selalu terburu-buru, sebentar disana, sebentar di sini”
“Karena aku sedang mencari. Jangan tanya aku mencari apa”
“Kau tahu kalau itu adalah pertanyaan yang runtut selanjutnya”
“Entah, kau selalu dapat diantisipasi”
“Jawab saja”
“Kau akan tertawa”
“Aku sudah banyak tertawa seumur hidupku”
“Kau akan menganggapku sakit pikir”
“Sudah lama, hanya aku tidak terlalu mempedulikannya”
“Haha. Iya, aku lupa kalau aku tidak pernah dipedulikan”
“Ah aku bosan selalu berusaha berdamai denganmu bahkan untuk hal yang sepele”
“Tak paksa kau harus berdamai. Kau lelah, tidur saja. Pulang.”
“Kau yang harus pulang. Mau kuantar?”
“Atas keberanian macam apa aku berdebat dengan lelaki gombal macam kau”
“Oke, kau kuantar sekarang”
“Aku sedang mencari pertanda. Berkeliling mencari arah..”
“Terdengar seperti alkemisnya Paulo Coelho”
“Aku berkali-kali jatuh cinta pada barat, yang sampai sekarang aku tak tahu berbalas atau tidak”
“Kau bisa menanyakannya..”
“Aku diam-diam menunggu isyarat timur, hampir-hampir tidak terlihat bahwa aku berharap”
“Ini...”
“Kamu tahu, lama-lama aku maju mundur. Menaruh ragu pada selatan”
“Ini...”
“Semakin kebas saat kutuju utara, dia dusta sempurna, tak lagi kupercaya”
“Boleh kusela?”
“Meski aku dijanjikan hal baik oleh setiap mata angin, aku rasa pencarianku justru kini tak berarah.”
“Kusela sekarang..”
“Sekarang ini kau akan berpikir aku barusan merapal mantra”
“Terserah setelah ini kau akan seacuh apa, tapi aku sampaikan saja. Aku rasa kita sedang.. mencari hal yang sama”

Kepadanya, aku.


Pada tangis yang memekik geram
Pada muram seterang temaram
Pada sunyi yang kucipta mencekam
Aku mau katakan, aku sungguh belum lupa, tapi aku mau melanjutkan hidup

Pada hujan yang menderas
Pada hati yang sebenarnya sudah kebas
Pada ngilu yang hampir-hampir tak pernah hilang bekas
Aku titipkan bisikan, aku siap berdiri sekarang

Pada usaha yang terkepal lewat ujung-ujung jari
Pada asa yang sudah dianyam semalaman ini
Pada senyum yang sudah diulum sepenuh hati
Aku sampaikan sungguh, aku berhak atas suka citaku lagi


Bahkan pada saat aku sudah tahu ini saatnya untuk bangun, bagian tersulitnya adalah aku masih merindukanmu. 

Friday, 11 April 2014

kata ia, tentang jarak...



Untuk kamu yang percaya bahwa jarak tercipta agar rindu tetap hidup tanpa pernah redup, tolong tanyakan pada nuranimu dulu sekarang. Kau benar-benar mempercayai itu, atau kau hanya menggunakan konsep itu untuk menenangkanmu? Karena kau tak punya cara lain memandang jarak, kan? tak mau membayangkan efek terburuk dari jarak, tak mampu mengantisipasi sesuatu yang diciptakan jarak. 

Hal yang paling menyedihkan adalah berpura-pura pada dirimu sendiri.

Tuan, siapa?


Tuan, saya rasa Tuan salah orang. Tuan bahkan tidak berada di sekitar saya selama ini, mengapa Tuan berniat meminang saya? Sungguh lah saya saja terheran-heran. Bagaimana Tuan bisa mengenal orang seperti saya, yang berparas cantik pun tidak, kaya apa lagi. Sangat tidak mencolok. Darimana Tuan lantas bisa tahu saya? Teman? Kerabat? Apa yang mereka katakan? Kalau boleh saya cakap, barangkali Tuan salah dengar, atau kalau bukan karena itu, barangkali mereka sedang menjebak Tuan, dengan merekomendasikan saya untuk Tuan. Sekiranya benar, tolonglah Tuan bisa berbicara tegas kepada mereka, bukan hanya Tuan yang jadi korban, saya yang lebih jelata pastilah korban sebenar-benarnya. Saya memang bukan siapa-siapa, tapi Tuan sungguh tidak pantas berbuat main-main dengan saya.

Hari itu saya bingung dengar berita ini. Saya saja tidak kenal Tuan siapa. Guru saya berkata saya harus lebih dulu memastikan saya sudah siap atau belum untuk itu, baru setelah itu saya akan diberitahu siapa Tuan sebenarnya. Hanya sedikit yang saya berhasil temukan informasi tentang Tuan. Tuan lebih tua dua tahun dari saya, dan Tuan orang langitan. Maka seperti yang sudah saya katakan di awal, barangkali Tuan salah orang. Kata guru saya, Tuan bukan dari padepokan ini, saya semakin heran bagaimana Tuan bisa mengenal saya. Yang lebih sulit bagi saya untuk percaya adalah kenyataan bahwa semakin kecil kemungkinan saya mengetahui identitas Tuan.

Tapi di luar itu, saya sungguh ingin tahu siapa Tuan. Penasaran sekali.