Wednesday, 12 October 2016

P-R-O-C-A-S-T-I-N-A-T-E. Procrastinate.




When I was in the third semester, I got a subject named Writing 3 which requires students to write about a 5,000-8,000 word essay at the end of the term. The lecturer told this in the first three or four meeting, I forgot, so that we’re expected to figure out the topic early. Months went by, and I didn’t write anything. Then months turned into two weeks when finally I planned to deal with the task. It was on Monday morning when I went to campus (to get free Wifi access, for sure!), I wish I could have some journals read. I read and highlighted some points, yet about two hours later, I was lost in one traveller’s blog and turned to explore it much, instead. 

Time goes by. One day I was talking to my friends when my classmate asked, “Have you done writing assignment?” which is, then, followed by next surprising statement, “I haven’t finished it, either, I’ve only had 20 pages. You?” Well, I haven’t even accomplished one!  I came to realize that there are 3 days remaining before the deadline so I did the only thing I could, including staying awake along two nights and sprinting to print centre, then finally submitted it in just at the deadline. Some weeks later, I got an email coming from my lecturer, it was officially from him. He told me that my work was flawless, I’ve comprised elaborated points, I’ve put some related theories from experts, my work’s been free from any grammatical mistake, as one of the lovely part of his email said, “This is the best one I’ve ever seen!”

Unfortunately, it did not happen. (I just want to enjoy a moment when you think, “This girl is amazing!”) No, I should admit it was very bad essay. I got B (I believe that my daily assignments really help me with the final score), while the rest of my class probably got an A. Not to bother you with the details, I have sort of healthy relationship with deadlines but at that time, I know I ended up as a procrastinator. I just planned to do the task soon but my mind would be “Are you sure you’re gonna do now? ‘Cause tomorrow you’ll have another presentation, you should prepare it well, though” or quite frequently “If you’re going to make a great essay, you should make an outline first, read books, read journals, paraphrase the experts’ quotes, develop ideas into coherent and cohesive paragraph, bla bla blah” which somehow drives me to think that procrastinators own a little part of perfectionists then.

Today I am involving myself in a free English course using WhatsApp platform, namely Kelas Online Bahasa Inggris (KOBI). It’s been some time I join KOBI, and along these 2 batches, I always find students who didn’t do the assignments nor did they give any notice for tutors. I do believe that people have their own priority and joining this free and online class be like….. Well you might say karma does exist, haha.

I think people are all procrastinators. Everyone procrastinates on something in life, right? But we need to think what we’re really procrastinating on. They said that they wanted to improve their English, some of them joined KOBI to prepare themselves for student exchange or study abroad. If it is your ultimate goal, I don’t think you can argue with that. I mean if learning English becomes an utmost matter to pursue your dream, why can’t you regard that joining class and accomplishing assignments are some of the important things you should do.

Okay, it’s already late. I haven’t finished my work. See? Everyone procrastinates on something in life. I procrastinate this stuff to write a post in a blog :D

Tuesday, 10 May 2016

Kamu bukan Rangga, aku juga bukan Cinta


kamu bukan Rangga. Aku bukan Cinta.
hanya besok hari setelah lakon ini selesai,
hanya besok hari setelah bangun tidur dan lalu sarapan,
aku yakin perasaan ini bisa saja dilabeli dengan kisah film lainnya
yang ketika tidak ada yang sama, bahkan serial FTV yang diputar pagi siang sore secara bergantian di televisi bisa saja jadi versi sinemanya.

kamu bukan Rangga. Aku bukan Cinta.
jangan kau tebak akhir cerita demi alur yang kau suka
jangan mencocok-cocokkan rasa demi itu adalah yang tersaji di layar raksasa
Rangga tidak seragu kau meminta
Cinta tidak sepicik aku membencimu

kamu bukan Rangga. Aku bukan Cinta.
tidak ada AADC2 atau bahkan sekuel series bagi kita
tidak ada puisi-puisi yang kau tulis
hanya aku yang dalam diam justru mengumpulkan larik demi larik
mengumpulkan keberanian menuliskan apapun yang berkebalikan:
keberanian berbohong
kutulis benci, kupikir rindu. Kutulis cerah, kupikir hujan

aku akan jadi yang tidak tahu diri menerimamu setelah lama
meski aku bukan Cinta
yang aku tak yakin adalah bahwa
meski kau mirip Rangga,
tapi apakah kau, sekembalimu, pernah terfikir untuk menemuiku

atau paling tidak, bermaksud mengenaliku kembali.



Wednesday, 9 December 2015

Well, every late post is here. Haha!


Menyembuhkan kerinduan bercerita tentang perjalanan, tentang rasa yang dialami saat perjalanan, bahkan tentang hal-hal yang tidak penting ketika berperjalanan, akhirnya coretan coretan  jaman baheula ini berhasil saya jadikan benang-benang pensieve. Berharap nggak menuh-menuhin kepala. Beberapanya sudah dari dulu ditulis, awalnya sudah merasa cukup hanya dengan dibaca sendiri. Beberapanya lagi memang baru kemaren, gek entes. Gegara mendapat nasihat bahwa “kalau ketika kau tidak menulis, saat kau mati nanti, tak ada yang mengenangmu” maka menulis untuk publik, saya lakukan lagi. Tapi btw saya punya versi lebih enteng biar tetep terus nulis walaupun yaa... ngga pernah bisa menulis yang proper─lebih banyak meracau. Terus nulis biar nggak ilang di larutan air kehidupan dan gula rutinitasnya. Hidup anak (yang pernah) IPA! Nah kan ngaco.


Baiklah, selamat masuk panci, benang-benang pensieve!

Gemar Berbohong


Akhir-akhir ini orang gemar berbohong terhadap perasaannya sendiri. Merumuskan versi yang menurutnya paling baik untuk dipercaya. Versi ini juga yang seringkali dikatakan pada orang lain, versi-paling-enak-didengar. Antara melindungi perasaannya atau membuatnya justru sangat terluka. Membiarkannya begitu saja sampai entah kapan ketika mengingatnya, ia sudah tak menangis lagi.

Akhir-akhir ini orang gemar berbohong terhadap perasannya sendiri. Sudah berani memanggil duluan, alih-alih menghindar. Sudah berani tanyakan kabar, alih-alih tanyakan “kau-ingat-tidak”. Sudah berani membahas hal lain seperti sungguh tidak ada hal yang terjadi sebelumnya, alih-alih diam dan membiarkannya melakukan monolog. Sudah berani tersenyum melihatnya menggandeng tangan yang lain, alih-alih menangis dengan hati kebas.

Akhir-akhir ini orang gemar berbohong terhadap perasaannya sendiri. Bukan dalam rangka tak punya hati. Tidak tahukah betapa susahnya hanya untuk tidak mengingatnya. Aku pulang dua minggu sekali dan meninggalkan rapat serta kuliah 4 hari hanya untuk alasan yang tidak jelas, aku tidak boleh mengijinkanku libur pada sabtu minggu atau memilih pergi ke rumah saudara saja agar ada yang menegurku setiap saat sehingga aku tak melamun. Aku lalu ke lain kota lain propinsi hanya untuk mengucapkan selamat pada pernikahan mbak kos yang juga sudah seminggu berlalu. Aku ke rumah lagi dan hanya menunjukkan bahwa aku masih ada, lalu kembali pulang setelahnya pada hari H pernikahanmu. Berharap itu menyembuhkan? Aku masih punya hati, meski aku tak tahu apa rupa nya sekarang.

Akhir-akhir ini orang gemar berbohong terhadap perasaannya sendiri. Karena toh, apa? Memangnya ketika sudah jujur dengan perasaan, semuanya bisa dilegakan? Semuanya bisa diikhlaskan? Untuk urusan yang satu ini, meski tidak ada pengakuan saling memiliki, tepat ketika salah satunya pergi, maka yang lain merasa kehilangan. Padahal kata ‘kehilangan’ seharusnya hanya dapat bekerja pada mereka yang sudah merasa saling. Maka sudah biarlah sekarang perasaan dibohongi, semoga ia sadar bahwa berhati-hati lebih baik. Balasan yang setimpal atas merasa sudah “saling”..


Akan selalu ada saat seseorang berdamai dengan perasaannya, tapi bukan sekarang. Tepat ketika aku sudah merasa lupa, aku lalu ingat bahwa kemarin adalah hari ulang taun pernikahanmu.

Sunday, 29 June 2014

Pelangi




Merah jingga kuning hijau biru nila ungu yang kita pandangi itu adalah kenangan gerimis. Betapa kenangan bisa begitu indah.

Rental hati


Kamu yang kerap kali menandai hujan deras sebagai album kenangan, tersenyum-senyum di jendela kamar, apakah kamu yakin kalau bahkan dia punya fotomu dalam albumnya? Kamu yang menganggap gerimis adalah fragmen tipis pengingat hari-hari bersama, apakah kamu bisa memastikan kalau dia  ingat salah satu momen saja? Bahkan jika bagi semua, petir adalah keganasan, maka bagimu, petir barangkali lampu flip flop penerang satu dua cerita kebahagiaan.

Kamu yang sudah siap menunggu senja bahkan dari 2 jam sebelum matahari tergelincir, apakah kamu percaya bahwa waktu berharapmu tidak sia-sia? Kamu yang habiskan seratus delapan puluh derajat jarum jam bergerak mengusahakan terbaik untuknya, apakah kamu bisa jamin kalau dia akan dedikasikan satu kali putaran jarum menit saja untuk bersedia berbincang? Ada yang selalu menunggu. Selalu menunggu untuk selanjutnya mengetahui bahwa  orang yang kamu tunggu tidak akan pernah datang. Sudah kukatakan kamu bebal.

Bagimu yang menuliskan aksara tentangnya berlembar-lembar, apakah kamu bisa jamin dia pernah tuliskan namamu satu kali saja? Bagimu yang mengharu biru di mention atau di tag bersama, apakah kamu tidak sedang mencurigai bahwa dia hanya menyempatkan membuka notifikasi dan merasa tidak ada yang istimewa? Bagimu yang diam-diam berburu fotonya, apakah kamu benar-benar berpuas dengan mengaguminya dari jauh dan mengulum senyum membuka folder demi folder?

Bagimu yang pernah dibantu atau ditemani, apakah lemah lembutnya yang sekali itu lantas mewakili semua biasa-biasanya dia padamu? Oh bagimu yang mengais mimpi sendirian, renungkanlah sekali lagi, apa iya kamu akan terus-terusan menahan kilat mata itu di depannya? Apa iya besok hari, lusanya, minggu depan, bulan depan, semester depan, kamu akan secara sukarela besikap biasa saja sedang perempuan di depan sana sedang tertawa renyah bersamanya? Bagimu yang merapal doa dengan sedu sedan, apa iya kamu tetap mendoa untuknya sedang menguatkan dirimu saja kau habiskan rintih doa hingga subuh? Sadar. Kau diajarkan siapa, hah? Diajarkan siapa untuk meminjami hati?

Saturday, 3 May 2014

#averylatepost



Jadi ceritanya kamu tidak mau terang-terangan. Kue ulang tahun itu malah diantar bapak O’jack berseragam kuning. Mana aku hanya disuruh menerima tanpa diperbolehkan tahu siapa pengirimnya. Yaa padahal kalau kamu sendiri yang mengetuk pintu kos, aku juga tidak terlalu menjamin berani membukanya hehe. Yang mengherankan, kamu kok sampe betah-betahnya tidak menceritakan pada siapapun, hingga tanda tentang siapa tak bisa aku eja. Hingga tanda tentang siapa, aku takut aku lupa.

Kenapa begitu bertahan hingga sekarang tidak memberitahu, kamu?