Wednesday, 9 December 2015

Well, every late post is here. Haha!


Menyembuhkan kerinduan bercerita tentang perjalanan, tentang rasa yang dialami saat perjalanan, bahkan tentang hal-hal yang tidak penting ketika berperjalanan, akhirnya coretan coretan  jaman baheula ini berhasil saya jadikan benang-benang pensieve. Berharap nggak menuh-menuhin kepala. Beberapanya sudah dari dulu ditulis, awalnya sudah merasa cukup hanya dengan dibaca sendiri. Beberapanya lagi memang baru kemaren, gek entes. Gegara mendapat nasihat bahwa “kalau ketika kau tidak menulis, saat kau mati nanti, tak ada yang mengenangmu” maka menulis untuk publik, saya lakukan lagi. Tapi btw saya punya versi lebih enteng biar tetep terus nulis walaupun yaa... ngga pernah bisa menulis yang proper─lebih banyak meracau. Terus nulis biar nggak ilang di larutan air kehidupan dan gula rutinitasnya. Hidup anak (yang pernah) IPA! Nah kan ngaco.


Baiklah, selamat masuk panci, benang-benang pensieve!

Gemar Berbohong


Akhir-akhir ini orang gemar berbohong terhadap perasaannya sendiri. Merumuskan versi yang menurutnya paling baik untuk dipercaya. Versi ini juga yang seringkali dikatakan pada orang lain, versi-paling-enak-didengar. Antara melindungi perasaannya atau membuatnya justru sangat terluka. Membiarkannya begitu saja sampai entah kapan ketika mengingatnya, ia sudah tak menangis lagi.

Akhir-akhir ini orang gemar berbohong terhadap perasannya sendiri. Sudah berani memanggil duluan, alih-alih menghindar. Sudah berani tanyakan kabar, alih-alih tanyakan “kau-ingat-tidak”. Sudah berani membahas hal lain seperti sungguh tidak ada hal yang terjadi sebelumnya, alih-alih diam dan membiarkannya melakukan monolog. Sudah berani tersenyum melihatnya menggandeng tangan yang lain, alih-alih menangis dengan hati kebas.

Akhir-akhir ini orang gemar berbohong terhadap perasaannya sendiri. Bukan dalam rangka tak punya hati. Tidak tahukah betapa susahnya hanya untuk tidak mengingatnya. Aku pulang dua minggu sekali dan meninggalkan rapat serta kuliah 4 hari hanya untuk alasan yang tidak jelas, aku tidak boleh mengijinkanku libur pada sabtu minggu atau memilih pergi ke rumah saudara saja agar ada yang menegurku setiap saat sehingga aku tak melamun. Aku lalu ke lain kota lain propinsi hanya untuk mengucapkan selamat pada pernikahan mbak kos yang juga sudah seminggu berlalu. Aku ke rumah lagi dan hanya menunjukkan bahwa aku masih ada, lalu kembali pulang setelahnya pada hari H pernikahanmu. Berharap itu menyembuhkan? Aku masih punya hati, meski aku tak tahu apa rupa nya sekarang.

Akhir-akhir ini orang gemar berbohong terhadap perasaannya sendiri. Karena toh, apa? Memangnya ketika sudah jujur dengan perasaan, semuanya bisa dilegakan? Semuanya bisa diikhlaskan? Untuk urusan yang satu ini, meski tidak ada pengakuan saling memiliki, tepat ketika salah satunya pergi, maka yang lain merasa kehilangan. Padahal kata ‘kehilangan’ seharusnya hanya dapat bekerja pada mereka yang sudah merasa saling. Maka sudah biarlah sekarang perasaan dibohongi, semoga ia sadar bahwa berhati-hati lebih baik. Balasan yang setimpal atas merasa sudah “saling”..


Akan selalu ada saat seseorang berdamai dengan perasaannya, tapi bukan sekarang. Tepat ketika aku sudah merasa lupa, aku lalu ingat bahwa kemarin adalah hari ulang taun pernikahanmu.

Sunday, 29 June 2014

Pelangi




Merah jingga kuning hijau biru nila ungu yang kita pandangi itu adalah kenangan gerimis. Betapa kenangan bisa begitu indah.

Rental hati


Kamu yang kerap kali menandai hujan deras sebagai album kenangan, tersenyum-senyum di jendela kamar, apakah kamu yakin kalau bahkan dia punya fotomu dalam albumnya? Kamu yang menganggap gerimis adalah fragmen tipis pengingat hari-hari bersama, apakah kamu bisa memastikan kalau dia  ingat salah satu momen saja? Bahkan jika bagi semua, petir adalah keganasan, maka bagimu, petir barangkali lampu flip flop penerang satu dua cerita kebahagiaan.

Kamu yang sudah siap menunggu senja bahkan dari 2 jam sebelum matahari tergelincir, apakah kamu percaya bahwa waktu berharapmu tidak sia-sia? Kamu yang habiskan seratus delapan puluh derajat jarum jam bergerak mengusahakan terbaik untuknya, apakah kamu bisa jamin kalau dia akan dedikasikan satu kali putaran jarum menit saja untuk bersedia berbincang? Ada yang selalu menunggu. Selalu menunggu untuk selanjutnya mengetahui bahwa  orang yang kamu tunggu tidak akan pernah datang. Sudah kukatakan kamu bebal.

Bagimu yang menuliskan aksara tentangnya berlembar-lembar, apakah kamu bisa jamin dia pernah tuliskan namamu satu kali saja? Bagimu yang mengharu biru di mention atau di tag bersama, apakah kamu tidak sedang mencurigai bahwa dia hanya menyempatkan membuka notifikasi dan merasa tidak ada yang istimewa? Bagimu yang diam-diam berburu fotonya, apakah kamu benar-benar berpuas dengan mengaguminya dari jauh dan mengulum senyum membuka folder demi folder?

Bagimu yang pernah dibantu atau ditemani, apakah lemah lembutnya yang sekali itu lantas mewakili semua biasa-biasanya dia padamu? Oh bagimu yang mengais mimpi sendirian, renungkanlah sekali lagi, apa iya kamu akan terus-terusan menahan kilat mata itu di depannya? Apa iya besok hari, lusanya, minggu depan, bulan depan, semester depan, kamu akan secara sukarela besikap biasa saja sedang perempuan di depan sana sedang tertawa renyah bersamanya? Bagimu yang merapal doa dengan sedu sedan, apa iya kamu tetap mendoa untuknya sedang menguatkan dirimu saja kau habiskan rintih doa hingga subuh? Sadar. Kau diajarkan siapa, hah? Diajarkan siapa untuk meminjami hati?

Saturday, 3 May 2014

#averylatepost



Jadi ceritanya kamu tidak mau terang-terangan. Kue ulang tahun itu malah diantar bapak O’jack berseragam kuning. Mana aku hanya disuruh menerima tanpa diperbolehkan tahu siapa pengirimnya. Yaa padahal kalau kamu sendiri yang mengetuk pintu kos, aku juga tidak terlalu menjamin berani membukanya hehe. Yang mengherankan, kamu kok sampe betah-betahnya tidak menceritakan pada siapapun, hingga tanda tentang siapa tak bisa aku eja. Hingga tanda tentang siapa, aku takut aku lupa.

Kenapa begitu bertahan hingga sekarang tidak memberitahu, kamu?

Enigma


“Kau selalu tampak sibuk kesana kemari”
“Aku tak sibuk, hanya orang lain saja yang barangkali lebih setia berada di tempat yang sama”
“Ya kan kau selalu terburu-buru, sebentar disana, sebentar di sini”
“Karena aku sedang mencari. Jangan tanya aku mencari apa”
“Kau tahu kalau itu adalah pertanyaan yang runtut selanjutnya”
“Entah, kau selalu dapat diantisipasi”
“Jawab saja”
“Kau akan tertawa”
“Aku sudah banyak tertawa seumur hidupku”
“Kau akan menganggapku sakit pikir”
“Sudah lama, hanya aku tidak terlalu mempedulikannya”
“Haha. Iya, aku lupa kalau aku tidak pernah dipedulikan”
“Ah aku bosan selalu berusaha berdamai denganmu bahkan untuk hal yang sepele”
“Tak paksa kau harus berdamai. Kau lelah, tidur saja. Pulang.”
“Kau yang harus pulang. Mau kuantar?”
“Atas keberanian macam apa aku berdebat dengan lelaki gombal macam kau”
“Oke, kau kuantar sekarang”
“Aku sedang mencari pertanda. Berkeliling mencari arah..”
“Terdengar seperti alkemisnya Paulo Coelho”
“Aku berkali-kali jatuh cinta pada barat, yang sampai sekarang aku tak tahu berbalas atau tidak”
“Kau bisa menanyakannya..”
“Aku diam-diam menunggu isyarat timur, hampir-hampir tidak terlihat bahwa aku berharap”
“Ini...”
“Kamu tahu, lama-lama aku maju mundur. Menaruh ragu pada selatan”
“Ini...”
“Semakin kebas saat kutuju utara, dia dusta sempurna, tak lagi kupercaya”
“Boleh kusela?”
“Meski aku dijanjikan hal baik oleh setiap mata angin, aku rasa pencarianku justru kini tak berarah.”
“Kusela sekarang..”
“Sekarang ini kau akan berpikir aku barusan merapal mantra”
“Terserah setelah ini kau akan seacuh apa, tapi aku sampaikan saja. Aku rasa kita sedang.. mencari hal yang sama”

Kepadanya, aku.


Pada tangis yang memekik geram
Pada muram seterang temaram
Pada sunyi yang kucipta mencekam
Aku mau katakan, aku sungguh belum lupa, tapi aku mau melanjutkan hidup

Pada hujan yang menderas
Pada hati yang sebenarnya sudah kebas
Pada ngilu yang hampir-hampir tak pernah hilang bekas
Aku titipkan bisikan, aku siap berdiri sekarang

Pada usaha yang terkepal lewat ujung-ujung jari
Pada asa yang sudah dianyam semalaman ini
Pada senyum yang sudah diulum sepenuh hati
Aku sampaikan sungguh, aku berhak atas suka citaku lagi


Bahkan pada saat aku sudah tahu ini saatnya untuk bangun, bagian tersulitnya adalah aku masih merindukanmu.