Friday, 11 April 2014

kata ia, tentang jarak...



Untuk kamu yang percaya bahwa jarak tercipta agar rindu tetap hidup tanpa pernah redup, tolong tanyakan pada nuranimu dulu sekarang. Kau benar-benar mempercayai itu, atau kau hanya menggunakan konsep itu untuk menenangkanmu? Karena kau tak punya cara lain memandang jarak, kan? tak mau membayangkan efek terburuk dari jarak, tak mampu mengantisipasi sesuatu yang diciptakan jarak. 

Hal yang paling menyedihkan adalah berpura-pura pada dirimu sendiri.

Tuan, siapa?


Tuan, saya rasa Tuan salah orang. Tuan bahkan tidak berada di sekitar saya selama ini, mengapa Tuan berniat meminang saya? Sungguh lah saya saja terheran-heran. Bagaimana Tuan bisa mengenal orang seperti saya, yang berparas cantik pun tidak, kaya apa lagi. Sangat tidak mencolok. Darimana Tuan lantas bisa tahu saya? Teman? Kerabat? Apa yang mereka katakan? Kalau boleh saya cakap, barangkali Tuan salah dengar, atau kalau bukan karena itu, barangkali mereka sedang menjebak Tuan, dengan merekomendasikan saya untuk Tuan. Sekiranya benar, tolonglah Tuan bisa berbicara tegas kepada mereka, bukan hanya Tuan yang jadi korban, saya yang lebih jelata pastilah korban sebenar-benarnya. Saya memang bukan siapa-siapa, tapi Tuan sungguh tidak pantas berbuat main-main dengan saya.

Hari itu saya bingung dengar berita ini. Saya saja tidak kenal Tuan siapa. Guru saya berkata saya harus lebih dulu memastikan saya sudah siap atau belum untuk itu, baru setelah itu saya akan diberitahu siapa Tuan sebenarnya. Hanya sedikit yang saya berhasil temukan informasi tentang Tuan. Tuan lebih tua dua tahun dari saya, dan Tuan orang langitan. Maka seperti yang sudah saya katakan di awal, barangkali Tuan salah orang. Kata guru saya, Tuan bukan dari padepokan ini, saya semakin heran bagaimana Tuan bisa mengenal saya. Yang lebih sulit bagi saya untuk percaya adalah kenyataan bahwa semakin kecil kemungkinan saya mengetahui identitas Tuan.

Tapi di luar itu, saya sungguh ingin tahu siapa Tuan. Penasaran sekali. 

Masih.


Sampai sekarang aku masih sering merasakan gempa kecil.
Ya, gempa kecil. Kau menamakannya demikian. Pada setiap nyeri ini, aku bahkan begitu jelas mengingat katamu tentang sakit kepala. Pada setiap kesakitan ini, aku masih dengan bodoh melihat layar HP: munculkah sebuah nama  disana? Pada setiap usaha menghentikan gempa ini, bukan obat yang kucari, tapi kenangan. Sekarang gempa kecil ini terjadi lagi, kali ini, mm... rinduku, sampaikah ia?

Sampai sekarang aku masih sering lupa atau bahkan salah jalan.
Tapi bagaimana bisa untuk perkara satu itu, kamu, aku bahkan selalu ingat. Hal-hal yang tidak penting seperti kamu pernah mengatakan apa pada situasi bagaimana, kamu tidak suka makan apa, kamu akan melakukan apa pada saat seperti apa. Gang mana yang pernah dilalui beriringan, buku apa yang telah dibahas bergantian, kesempatan apa yang telah diambil bersama-sama. Kemarin ini aku benar-benar berfikir, berusaha melupakan sesuatu ternyata jauh lebih sukar daripada berusaha mengingat sesuatu..

Sampai sekarang aku masih sering memutar lagu itu, yang aku baiat sebagai theme song.
Haha, ngilu. Ini sama sekali bukan lagu sedih, yang membuat pendengarnya termehek-mehek. Tapi hingga lepas dini hari, saat aku tahu kamu—atas kehendakmu, benar-benar pergi, aku sudah tidak sadar betapa tergugunya ketika dengan sengaja kuputar lagu itu. Kini, mungkin batin yang beku membantu semua ini pulih, aku sudah baik-baik saja ketika mendengarnya. Masihkah lagu itu terdengar sama, bagimu? Oh, sebentar. Masihkah kau menandai lagu itu sebagai ... aku?

Sampai sekarang aku masih begitu berdebar dengan hanya melihatmu.
Kamu tidak akan menyangka seberapa sering aku ambil jalan memutar ketika kamu, tanpa aba-aba, melintas di sudut mata. Aku sungguh tak pernah membayangkan skenario macam apa saat aku benar-benar harus berjumpa denganmu. Bingung berkata apa saat bertemu, apakah hanya akan menanyakan kabar, menyoal tentang nasi telor sekarang harganya lima ribu, atau buku-buku yang masih kau pinjam. Ah, yang jelas aku toh tak akan berani berbincang tentang kemarin. Bagimu hiburan, bagiku siksaan.

Hingga aksara-aksara ini dibaca, aku tahu aku belum pulih benar tentang hal ini. Atau kalau kau pikir aku telah sembuh, maka aku hanyalah aktor yang dengan pahit berhasil melakoni peranku: kebohongan. 

Lampu dan Lilin


Kau hanya berikan lampu 5 watt. Ku butuh lebih dari temaram itu. Kau tak adil. Telah kusediakan ruang yang lebih besar daripada yang hanya bisa kau terangi dengan 5 watt. Tapi kau berhenti hanya dengan bola lampu 5 watt. Kau juga hanya sediakan pendar cahaya lilin kecil di sudut lain ruangan. Ah, ternyata bahkan lebih buruk dari 5 watt tadi. Kukira kau punya lilin yang cahayanya lebih terang. Atau dengan penuh harap, lampu seterang neon 20 watt.

GELAP.

GELAP..

GELAP…

Aku tak bisa lihat apa-apa, termasuk dirimu. Hanya, aku sadar akan sesuatu. Lampu 5 watt mu makin lemah cahayanya. Lalu tiba-tiba konslet, dan….pet! Mati. Lilinmu jauh lebih malang. Dia begitu cepat meleleh, dan.…pet! Mati.

Mati.

Toh, sesaat lagi aku juga akan….pet!

MATI.



Friday, 7 March 2014

Mengembalikan Bukumu..


Barangkali aku harus segera mengembalikan bukumu. Sebelum kau menagihnya lagi. Aku sudah meminjamnya sekitar satu semester yang lalu, jelas harus sudah kukembalikan. Kemarin kau hanya menanyakan buku itu apakah ada bersamaku atau tidak. Itu seperti berbunyi ‘oh kamu yang meminjamnya’. Kau berujar ‘dikembalikan kalau sudah selesai baca saja’ tapi bagiku itu terdengar seperti ‘aku tak yakin kau akan sanggup membacanya sampai habis’. Jadi, target hidupku paling dekat ini adalah membaca buku pinjamanmu. Buku itu, aku bahkan belum sempat mengetahui isinya. Kamu, aku bahkan belum sempat mengetahui hatimu.

Barangkali aku harus segera mengembalikan bukumu. Meskipun benar-benar menambah ilmu, buku ini berat sekali. Aku harus membacanya 3-4 kali baru aku paham, atau bahkan membuka lembar-lembar sebelumnya demi sampai pada pemahaman yang benar di belasan halaman selanjutnya. Rentetan-rentetan konsep dengan sedikit penjelasan. Ada beberapa tabel yang sebenarnya berfungsi untuk memfasilitasi agar pembaca mengerti, tapi menurutku malah mendistract, semakin pelik saja isi buku ini. Maka jangan tanya gambar, foto-foto untuk mengilustrasikan pun hanya 2 cm x 2 cm dan abu-abu. Kamu memang sudah mengingatkanku sebelumnya kalau buku ini agak serius, hmm itu justru semakin membuatku penasaran ingin membacanya, dengan serius.

Barangkali aku harus segera mengembalikan bukumu. Karena mungkin ada yang akan segera meminjam buku ini. Melihat-lihat isi perpustakaan kecilmu, memperbincangkan beberapa judul buku, dan mendiskusikan isinya. Membuka lembar demi lembar hanya untuk kemudian memilih satu buku untuk dipinjam. Begitu setiap kalinya berhadapan dengan rak-rak buku. Akan ada peminjam lain yang kalau aku boleh terka, untuk dia koleksi buku-buku ini kau tata rapi. Kau sudah menantikannya meminjam satu dua bukumu. Bagaimana aku tidak sampai tahu? Setiap bertemu dengannya di gerbang perpustakaan, setelah itu pula aku dapati kamu bersenandung dan terkekeh di sela-sela rak. Awalnya aku kira kamu bahagia ada peminjam koleksi buku yang datang, atau dengan terlalu percaya diri, bahagia aku datang. Tapi salah. Aku baru sadar setelah tahu polanya.

Barangkali aku harus segera mengembalikan bukumu. Takut kalau rak ku bocor dan buku yang tidak kau sampuli ini akan basah. Takut kalau ketika kubawa kemana-mana akan hilang, atau tertinggal di beberapa tempat aku bersila dan membaca buku. Walaupun selama ini aku jaga benar. Kau boleh saja tidak tahu, tapi pinjaman adalah pinjaman, bagiku ia adalah amanah, terhadapnya aku tidak boleh ceroboh. Yaah perlu kusampaikan bahwa aku tidak terlalu pandai menjaga barang, hilang dan rusak adalah akhir dari takdir barang-barangku. Aku jelas tidak seharusnya melakukannya pada buku milikmu kan? Walaupun sekarang ini sungguh aku sangat ingin melakukannya.


Barangkali aku memang harus segera mengembalikan bukumu. Terlalu lama membuat buku ini ada di tanganku percuma saja. Iya, aku tidak sedang memperbincangkan isi buku, semua jenis buku toh bermanfaat, jelas ada gunanya barang siapa membacanya. Aku sedang mengatakan bahwa buku ini kepemilikanmu. Itu yang akan sangat sia-sia jika masih berada di tanganku hingga sekarang. Tenaga yang aku siapkan untuk berargumen seperti biasanya saat mendiskusikan isi buku, sepertinya harus dialihkan untuk hal lain. Bagian tersulitnya bukan pada aku tak bisa memperkaya ilmu, tapi pada bagaimana kau percaya bahwa aku bilang baik-baik saja untuk tidak bercengkerama lagi denganmu. Ah, tak yakin apakah aku hanya akan mengembalikan ini dan dengan mudah meminjam buku lainnya, atau sekarang adalah kali pungkasan aku meminjam buku, darimu.

Jalanku Masih Panjang*


Wahai perasaan
Kau buat pagiku jadi mendung, soreku jadi kelam
Kau buat siangku jadi gelap, dan malam semakin gulita
Kau buat beberapa menit lalu aku gembira,
untuk kemudian bersedih hati

Wahai perasaan
Kau buat aku berlari di tempat
Semakin berusaha berlari, kaki tetap tak melangkah
Kau buat aku berteriak dalam senyap
Kau buat aku menangis tanpa suara
Kau buat aku tergugu entah mau apalagi

Wahai perasaan
Kau buat aku seperti orang gila
Mengunjungi sesuatu setiap saat, untuk memastikan sesuatu
Padahal buat apa? 
Ingin tahu ini, itu, untuk kemudian kembali sedih
Padahal sungguh buat apa?

Wahai perasaan
Kau buat aku seperti orang bingung
Semua serba salah
Kau buat aku tidak selera makan, malas melakukan apapun
Memutar lagu itu2 saja,
Mencoret2 buku tanpa tujuan
Mudah lupa dan ceroboh sekali

Wahai perasaan
Cukup sudah
Kita selesaikan sekarang juga
Karena,
Jalanku masih panjang
Aku berhak atas petualangan yang lebih seru

Selamat tinggal
Jalanku sungguh masih panjang....


*sebuah prosa dari Tere Liye

Buronan Akhirnya Tertangkap!


Sekarang ini, tepat sekarang ini, mungkin ada orang-orang yang dengan tulus mendoakanmu. Berharap kau sehat, selamat, terhindar dari segala mara bahaya, terhindar dari celaka, terhindar dari godaan syetan dan belenggu nafsu. Sekarang ini, tepat sekarang ini, mungkin ada orang yang dengan diam merindukanmu. Kangen tapi gengsi mengakui. Ingin bertemu, tapi ragu janjian. Sekarang ini, tepat sekarang ini, banyak orang yang dengan sukarela memikirkanmu, mengasihimu dengan sederhana, atau menyayangimu dengan begitu dalam namun pakewuh berucap. Lafadzkan tahmid dulu..

Sepuluh hari yang lalu, aku izin Ibuk untuk pergi ke Kerawang, menengok teman yang sakit. Alhamdulillah dapet ‘yes’. Walaupun sambil ditanya ‘mulihmu kapan?’ tapi tidak ada nada terlalu berharap di sana, apalagi memaksa. Mengunjungi rumah teman dan menatap ibu mereka masing-masing, sedangkan yang disuruh pulang berjumpa ibuk sendiri malah hanya selalu berjanji saja akan segera pulang. Lima hari yang lalu, ibuk sms jadi pulang kapan, sekalian minta tolong urus administrasi Fiqi di UGM. Karena punya alat berkelit, hanya perihal urusan administrasi yang kubahas. Tiga hari yang lalu, ibuk telpon bertanya banyak hal, hanya bagian kecilnya saja yang tentang ‘mau pulang hari apa’.

Dua hari yang lalu, pagi jam 6 ibu menelpon dan memintaku pulang. Kali ini berhasil, Kawan. Bagaimana tidak? Ibu punya serdadu, om Nano namanya. Beliau ini lalu dari jam 7 sudah ada di depan kos, menunggu gusar di dalam mobil. Sudah mengelak, sudah mencari alasan (duh durhakanya), sudah menunda (dengan mencuci, aku pikir ini akan manjur karena nyuci kan lama, bikin males nungguin). Tapi manalah bisa melawan. Om Nano menelepon lagi, Ibu menelepon lagi. Om Nano kirim Fika, yang dalam hal ini bukan lagi anaknya, tapi serdadunya (hehee), ke lantai 3. Sepertinya sudah saatnya menyerahkan diri. Baiklah, buronan sudah terkepung.

Bukan karena apa-apa tak mau pulang, tapi seperti belum saatnya pulang, bagaimanapun kerjaan hasil dari menunda menuntut untuk segera dibereskan. Hutang-hutang yang belum terlunasi.  Siapalah yang tidak mau rehat, ini liburan semester, memang waktunya pulang. Tapi perbuatan-perbuatan ini harus kupertanggungjawabkan. Membayangkan pulang pekan ini saja tidak bisa, apalagi berani merencanakan. All things can be messed up if I do. But, here I am. Beralih dari kota yang penuh tekanan ke kota yang penuh makanan. Banjarnegara.

Mangkel. Yang biasanya kalau pulang itu suka cita, ini nggak ikhlas bingits. Ibuk manalah paham apa yang harus aku lakukan di sini, banyak yang harus segera diselesaikan. Organisasi, proposal skripsi, persiapan MoU sama sponsor, permintaan bantuan dari teman, pembayaran SPP dan KRS. Tak bisakah ijinkan untuk selesaikan ini sebentar? Toh kemarin semua ini tertunda karena ngurus administrasinya Fiqi di UGM. Tak bisakah lihat posisi si sulung barang sedikit saja? Diem sama dongkol di mobil. It’s like there’s no way escape. All things have been messed up now.

Aku cari pemahaman baik dari penggerebekan ini, susah sekali ketemu. Manusiawi kan, yang ingat hanya negatifnya saja. Sesampainya di rumah, ketika mangkel sudah melunak, aku mulai menulis. Korban penculikan ini masih belum legowo, tapi dia biarkan hatinya merumuskan sendiri.  Aku yakin ibu atau bapak kita, tahu siapa anaknya. Sudahlah lancang saat aku pikir mana paham mereka dengan kita. Seberapa tidak kelihatan pedulinya mereka, seberapa mereka tidak menanyakan aktivitas kita di tanah rantau, seberapa tidak mengatakan apa-apa ketika dengarkan cerita. Bukan, bukan karena mereka tidak paham. Dalam beberapa hal, pemahaman mereka jauh lebih kompleks daripada pertimbangan kita macam apapun, sendakik-ndakiknya. Tapi kalau sudah urusan rindu, Ibu hanya punya pemahaman sederhana bahwa “Kau adalah anakku, Nak. Jika kuminta kau pulang, memang sudah waktunya kau pulang.”


Kalaupun adegan penculikan kemarin diejawantahkan dengan gamblang, mungkin akan seperti di atas. Sayangnya, bapak ibuk kita kerap kali sungkan menunjukkan rindu, barangkali kita yang harus bisa peka terhadap tanda-tanda rindu itu. Iya, tanda-tanda rindu itu termasuk ketika kita pulang, ibuk sibuknya luar biasa memasakkan semua kesukaan, kalau bukan karena aku harus mencuci piring setelahnya, hihi, mungkin sudah kuminta semuanya. Orang tua kita, barangkali mereka punya cara yang berbeda saat mengungkapkan rindu: tidak berkata :’)