Lukman Sardi dan Aiman Wicaksono*

0
16:32


Dari seperempat jam yang lalu ia hanya bersandar di depan meja resepsionis. Lama, tapi seperti sedang menunggu sesuatu selesai dikerjakan. Sibuk tengok kanan, arah pandangannya tepat ke pintu bertuliskan Unit Radiologi. Pintu yang tepat berada di sebelah kananku. Kalau nggak sedang cemas seperti ini, aku jelas akan GR. Dia memandang ke arahku. Tapi itu ada dalam list keseratus sekian karena setelah kurang lebih lima belas menit berdiri gelisah di meja resepsionis, ia kemudian berjalan cepat ke pintu Unit Radiologi tadi. Mengibaskan ‘jubah putih agung dokter’nya lewat di depanku. Tak satu inchipun melirik. Hm ya jelas mana tertarik, sama pasien jelek berkursi roda.

Setelah ‘sesi pemotretan’ ini selesai, aku menunggu namaku dipanggil. Rumah sakit ini sepertinya punya banyak dokter, tapi kenapa mereka antri dokter yang sama denganku. Dokter yang sudah dengan setia ditunggu pasiennya dari jam 10 pagi tadi, baru masuk ruang praktek jam 2 siang. Sempurna. Antrian pertama bergerak mulai setengah 3. Nomer 9? Dapet jatah jam empat. Hasil fotografi tadi lalu dipajang di neon entah berapa watt, tapi aku liat tulang betis dan ulnaku di sana. Ada tulang telapak kaki juga. Ia menuding-nuding dan menggumam-gumamkan sesuatu seperti ligamen, sobek, dan fraktura. Yang hanya jelas aku dengar  dari dokter-yang-sudah-tua-dan-banyak-antriannya itu adalah ‘oke, ini langsung kami tangani mbak, puasa sampe jam 7 nanti ya’. Si ibuk, yang dalam kesempatan ini sok tahu bertanya, ‘Dibius dok?’ Hh sempurna aku punya gambaran sekarang.

18. 30 WIB

Ibu sibuk telpon sana-sini, sesekali melihatku (lebih tepatnya kursi roda) dan ruang bedah bergantian. Mungkin menghitung jarak. Ibu kan guru matematika. Dia lewat lagi. Kali ini langkahnya lebih tenang. Dengan adegan yang atas imajinasiku kubuat slowmotion, aku berhasil menyimpulkan kalau dia mirip Lukman Sardi. Rahangnya kukuh, tegas. Tangannya memegang dokumen hasil photo session seperti punyaku tadi. Ia jadi sering lewat, kadang berjalan dengan elegan, kadang agak tergesa menuju meja resepsionis, membuka ‘hasil fotografi’ dan sepertinya memperbincangkan sesuatu. Beberapa kali beriringan dengan perawat yang memakai baju hijau muda, tertawa tipis. Makin mirip Lukman Sardi. Hellooo, this is hospital, ladies and gentleman. It’s neither pers conference nor movie launching.

18. 40 WIB

Aku baru sadar bahwa aku sudah merasa familiar dengan pemandangan laju kursi roda, tempat tidur pasien, kruk, tongkat, perban yang melilit, dan bebat plester yang ada merah-merahnya. Setidaknya ini sedikit membantuku untuk rileks. Sebelumnya kan riwayat medisku bersih, hanya dikotori oleh rawat inap karena salah makan saat balita dulu. Jadi belum pernah berinteraksi terlalu akrab dengan rumah sakit, apalagi rumah sakit orthopaedi seperti ini. Aku sama sekali tak tahu kalau tahun-tahun selanjutnya catatan medis itu semakin panjang. Eh, dia lewat lagi. Karena mungkin merasa aneh dan risih ada yang memandanginya terus, si Lukman Sardi menengok ke arahku. Datar, lalu jalan lurus.

18. 45 WIB

Seseorang yang memegang berkas-berkas tidak tersusun rapi melemparkan pandangannya di ruang tunggu. Memanggil namaku jelas sekali, ia mendekat ke arah ibu. Ibuk sudah lebih dulu mengacungkan tangannya ketika perawat berseragam hijau muda tadi meneriakkan ‘Rahma Fitriana’. Dan sekali lagi dengan jelas (tapi kali ini lebih pelan) ia berkata, “Sebentar lagi masuk ruang bedah ya, Bu”. Aku dan ibuk santai. Kita sama-sama sudah ngantuk. Tapi aku malah mencoba mencari-cari dokter Lukman Sardi. Kalau itu Lukman Sardi, kenapa dia ada di sini, masak shooting nggak ada kru nggak ada kamera. Tapi kalo dia bukan Lukman Sardi, (ah jadikan dia Lukman Sardi) kenapa bisa mirip banget nget nget...

18. 48 WIB

Aku sempurna didorong mas perawat tadi ke ruang bedah. Lalu dipersembahkan di depanku sebuah ranjang berselimut putih tebal, bantalnya ditinggikan. Mas perawat hijau muda memanggilku dengan nama, menanyai kelas dan sekolah dimana. Aku sudah khawatir jangan-jangan habis ini dia akan bertanya tentang jadwal pelajaran. Untungnya ada seorang dokter mendekat, dokter yang di jas putih agung dokternya tertulis nama ‘Vida’, segera mengambil alih perbincangan. Kekinian dan kedisinian. Berujar tentang nanti akan dibius, tidak sakit, dan akan cepat. Belakangan aku baru tahu kalo yang ngomongin tentang bius itu namanya dokter anestesi.

 Ini masih di ruang tunggu kamar bedah, jadi aku punya waktu untuk menikmati udara yang dingin aneh beberapa saat, ditemani perawat tadi yang sekarang mulai bertanya tentang apa yang terjadi dengan kaki kiriku. Eh heii, dia mirip penyiar berita RCT*! Butuh beberapa detik untuk mencari namanya di folder memori, tapi hobiku memirip-miripkan orang bekerja lebih cepat. Aiman Wicaksono!

(Tidak tahu jam berapa, hapeku sudah dititipkan ke ibuk)

Ranjang istimewa ini didorong masuk ruang B, suhu udaranya bertambah dingin. Tidak seseram ruang bedah yang ada di sinetron, lampunya tidak dimatikan, tapi 4 lampu yang dirangkai bersama di tengah ruangan, itu benar. Yang membuatku terlalu berimajinasi justru peralatan yang ada di sekitar ruangan ini. Final Destination. Gunting yang besar (jangan samakan dengan gunting rumput, ini bentuknya sedikit aneh), perban yang gulungannya besar sekali, alat yang ujungnya tajam seperti jarum jahit yang dizoom, dan ada beberapa benda tajam lainnya, tidak familiar. Sambil membenarkan posisi kaki kiriku, mas perawat hijau muda bertanya lagi, kali ini tentang bagaimana aku bisa jatuh dari tangga masjid. Cukup membanggakan menyebut sebab semua ini. Jatuh dari masjid punya konotasi yang bagus. Anak alim. Ya, dalam setiap bencana tetap ada yang harus disyukuri kan: dapet image baru yang lebih berkelas. Pintu ruang bedah B terbuka, dan karena itu adalah satu-satunya hal yang paling menarik yang terjadi waktu itu, maka adegan pintu yang dibuka pun aku tonton. Dokter Lukman Sardi! Tak berlebihan aku menyebut pintu yang dibuka tadi adalah sebuah adegan, ini bintangnya. Ia memeriksa kakiku, menekan bagian engkel yang bengkak.
Lukman Sardi     : “sakit?”
Aku                    : “iya”
Lukman Sardi     : “ini cuma digips kok, nanti kan terus enggak bengkak lagi” (sambil tersenyum)
Aku                    : “digips kenapa harus dibius?”
Lukman Sardi     : “ini disposisi, jadi nanti kita benerin dulu (sambil meragain mbenerin tulang, yang justru terlihat seperti meres jemuran). Ligamennya juga sobek itu”
Aku                    : “Oo.. (padahal nggak mudeng)”
Lukman Sardi     : “Tapi santai aja, nanti kan dibius jadi nggak kerasa apa-apa”
Aku                    : “Hehe, iya hehe”
Lukman Sardi     : “Kelas berapa de?”

Aku  menjawab pertanyaan Lukman Sardi dengan semangat, menyebutkan kelas dan jurusan. Menyebutkan nama sekolah dengan cepat, tidak seperti sesi wawancara dengan Aiman Wicaksono tadi. Pintu berderit lagi, dokter Vida masuk. Dia masuk bersama perawat hijau muda a.k.a. Aiman Wicaksono. Yang berbeda, kali ini sang perawat kalem, tersenyum hangat, membenarkan lagi posisi kaki, meninggikan letak bantal. Dokter Vida memasangkan alat seperti oksigen di hidungku (aku tidak bisa memiripkannya dengan siapa-siapa).
Dokter Vida        : “saya pasangkan ya, tenang aja”
Aku                    : “He’em” (kedengaran sengau)
Dokter Vida        : “Udah, kayak tidur aja, rileks...”
Aku                    : “He’em” (lebih sengau karena sekarang aku menahan napas, ada gas yang melewati ‘pembungkam’ mirip oksigen ini, baunya menyengat)
Dokter Vida        : “Kenapa?”
Aku                    : “Eng mm em ekk” (sekarang jadi sempurna gagu, nggak bisa ngomong, lha dibungkam sama alatnya gini, aduh dok, gimana to, ya kan jadi nggak bisa jawab dok)
Dokter Vida        : “Eh, kenapa? Takut?”
Aku                    : “Mm mm mm” (sambil dadah dadah, tadinya mau ngomong ‘enggak’)
Dokter Vida        : “Lho, nggak usah takut, tinggal dihirup,”
Aku                    : “....” (Oo dihirup, haha mana aku tahu)

(belum lihat jam)

Aku sudah keluar dari ruang B, tapi masih di ‘lobi’ ruang bedah. Aku berharap yang pertama kulihat adalah Lukman Sardi, penasaran sekali ingin menanyakan film terbarunya. Atau minimal dokter Vida, aku ingin meminta maaf telah membuatnya bingung atas urusan anestesi tadi. Tapi malah Aiman Wicaksono. Takut ditanyai banyak, aku alihkan perhatianku ke kaki kiri yang sekarang berbalut fiber putih dari bawah lutut hingga ke telapak kaki, menyisakan jari-jari kaki yang bebas bernapas. Penasaran, aku angkat, dengan bodoh dan kesadaran seadanya, bertanya: “ini udah?”

Aiman menjawab dengan tersenyum, “Sudah, ini nunggu pengaruh obat biusnya hilang, terus kamu bisa pulang.” Hh, iya luuh iya, mana betah juga di sini, betah ding kalo ada Lukman Sardi. Hhe. Dokter Vida mendekat, menanyakan kabar dan mengatakan bahwa mungkin sedikit pusing, tapi sebentar juga akan hilang. Dia menyuruh Aiman Wicaksono mendorong ranjangku keluar. Di depan pintu persis sudah ada ibu. Cantiknyaa, dia tersenyum lega sekali.

21. 12 WIB

Ini semacam ruang transit pasien yang habis dari ruang bedah kayaknya. Aiman beringsut sebentar mengambil plastik kresek. Katanya kalau aku mual tinggal bilang, kalau mau muntah tinggal bilang. Iya, emang pusing. Bau obat bius tadi juga seperti masih berputar-putar di sekitar hidung, polusi sekali. Pakdhe yang ikut mengantar Ibuk dan aku sekarang bertanya pada Aiman bagaimana proses pemasangan gips. Aku mau ikutan tanya, harus ada pembalasan dendam beberapa pertanyaan untuk Aiman Wicaksono ini. Tentang kenapa tadi biusnya nggak lewat suntik, tentang bagaimana obat bius bisa bekerja.

Dia menjelaskan tentang penghambatan impuls, aku bertanya apakah itu tentang neurotransmitter. Apakah tentang Ca2+ dan Na, apakah itu efeknya ke cerebrum atau cerebellum atau keduanya, dan apakah target obat bius lokal dan bius total itu ke suatu hal yang sama atau tidak. Dia menjawab tangkas, menjelaskan singkat. Jangan-jangan benar penyiar berita di Seputar Indonesia itu. Aiman Wicaksono menyuruhku untuk sekolah di kesehatan kalau pengen tahu lebih banyak. “Ya kalau perawat kan lebih ke prakteknya sekarang, udah nggak belajar teori-teori kayak dulu pas kuliah. Pengen tahu ilmunya? Kuliah di keperawatan atau kedokteran besok,”

21. 20 WIB

Tambah kleyeng-kleyeng, tapi kata mas perawat hijau muda Aiman Wicaksono ini aku sudah boleh pulang. Ibu menolak aku dirawat inap, 2 jam perjalanan akan menyulitkan pergantian shift jaga. Ya Allah, visioner. Senang sekali berpindah ruangan, aku punya kesempatan bertemu Lukman Sardi lagi kan.. Tapi sampai di luar rumah sakit, detik-detik dimasukkan ke bagasi, eh mobil, dokter Lukman Sardi nggak kelihatan. Aiman Wicaksono berkata beberapa hal penting seperti harus hati-hati karena jika jatuh atau terpeleset bisa disposisi lagi dan harus kontrol dua minggu sekali. Mungkin bisa bertemu dengan Lukman Sardi lagi kalau pas kontrol. Perawat Aiman Wicaksono kemudian memindahkanku ke kursi mobil yang sudah diatur derajatnya, biar bisa buat tiduran. Sambil memperbaiki sprei tempat tidur yang aku gunakan, ia bergumam pelan, tapi sayang terlalu jelas aku dengar, “Berat badan kamu berapa , jan abot lho.."


*fraktura SMA: hasil obrak abrik file jaman kuna baheula


Continue reading →

Ponakan baru

0
22:25
















Namanya IFAN. Pake F, bukan V. Apalagi P. Lucu sekali. Waduk kebahagiaannya masih sempurna, danau tanpa dosanya masih belum berkurang sedikitpun. Bulu matanya lentik. Giginya rapi tersusun putih. Gemar sekali menunjukkan barisan depan giginya yang mungil. Barisan belakang? Jangan ditanya, belum satu pun. Hehe. Ia akan ceria menunjukkan giginya sambil cerewet berbicara. Meminta makan dengan ikan mujahir, menolak kue dengan alasan tertentu, meminta dibukakan permen coklat, memanggil ibunya segera bila tak ada di sisi. Eciyeh.

Sebelum hari ini, baru pertama kali ketemu si Ifan. Itu saja pas masih bayi. Diam saja di gendongan. Hari ini? hari ini dia bersemangat sekali. Mengenakan kaos dan celana baru. Kegedean sih, tapi apa si yang nggak lucu kalo dipake anak-anak. Sepatu kedodoran pun akan fine fine saja, bahkan ketika ia ditertawakan. Akan baik-baik saja. Ia malah riang merasa menghibur yang lain. Celana panjang armynya punya banyak kantong, multifungsi buat ngantongin angpau, permen, sampe emping. Beberapa kali  meminta diambilkan ini itu, digigit setengah alu diletakkan. Beberapa kali ingin makan seperti yang ibunya makan, kue coklat kecil-kecil yang langsung dilahapnya sekaligus, satu dua kali salah makan cengkeh dan bukan kue nastarnya.

Kebiasaan jeleknya: ngupil. Hadeeh, ngupil dan ngoloh jenthik. Asal enggak berturut-turut aja Fan, masak habis ngupil terus jarinya dimasukin mulut. Yaiks! Vitamin kali ya, vitamin U.. Bisa itu dua tangan masuk semua ke mulut. Pas makan stik keju, pinter banget niruin sunnah Rasulullah, dijilat tangannya biar bersih. Tapi ini beda. Ifan melakukannya dalam durasi yang cukup lama. Itu jempol dikenyot nyampe beberapa detik, baru dilepas kalo udah ada yang narik. Nggak selese sampe disitu, si Ifan  dengan sok higienis, menjilat telapak tangannya berkali-kali. Udah mau masuk ke mulut semua itu tangan kanan kalo tante-tantenya nggak heboh teriak. Diantara lima jari yang paling sering masuk mulut adalah telunjuk. Akan saya ceritaka sedikit bahwa ambil gambar si Ifan adalah semacam susah, begitu dapet, e fotonya lagi ngemut telunjuk. Gayanya monoton kan, besok kapan-kapan mau tak ajarin kalo pas foto mending latian ngemut kesepuluh jarinya aja *ajaran sesat*


 Karena banyak tujuan hari ini, dia lama-lama kecapekan. Akumulasi dari cilukba yang nggak brenti-brenti. Akumulasi dari spekulasi minta nastar, permen coklat, putri salju, salak, sampe mendutmakanan tradisional di kecamatan Rakit, Banjarnegara. Akumulasi dari bermain bowling air mineral dan menghitung sedotannya. Juga kayaknya termasuk akumulasi dari cerewetnya minta makan pake ikan mujahir. Ia tertidur. 
Continue reading →

Sore Tugu Pancoran - Iwan Fals

0
22:03


Si Budi kecil kuyup menggigil
Menahan dingin tanpa jas hujan
Di simpang jalan Tugu Pancoran
Tunggu pembeli jajakan koran

Menjelang magrib hujan tak reda
Si Budi murung menghitung laba
Surat kabar sore dijual malam
Selepas isya melangkah pulang

Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal

Cepat langkah waktu pagi menunggu
Si Budi sibuk siapkan buku
Tugas dari sekolah selesai setengah
Sanggupkah si Budi diam di dua sisi?

Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal


(Mudik, Magelang-Yogyakarta. Besok, dan mungkin besok lagi, entah akan berapa jumlah kalian)

Continue reading →

(daripada capek bingung, mending nggak dikasih judul)

0
05:19


Satu tiket bioskop, satu orang. Satu orang, satu tanggung jawab. Ah, andai seindah itu....
Malam ini begitu benderang, tak tega rasanya kalau diam saja di dalam kamar berhadapan (lagi-lagi) dengan tuts-tuts keyboard yang karakternya tak berubah. Bosan berada dalam pengap senyawa sisa semangat hari ini dan harapan buat besok. Aku pikir lebih baik di luar, menggantungkan kaki di pagar lantai tiga, mengamati apakah halo bulan akan datang malam ini. Atau lebih baik berkunjung ke kamar tetangga, setidaknya ada yang bisa diperbincangkan, entah tentang skripsinya embak kos, rencana setelah lulusnya embak kos yang satunya, rencana pernikahan embak kos yang satunya lagi, atau sekedar tentang mas-mas yang jualan topi di Sunmor (ini jelas ceritanya adek kos. Unyu.)

Terkadang butuh tenaga cukup banyak untuk sekedar mengangkat 1 kardus air mineral.
Tak mengapa kau marah, tapi bisakah ini tidak berlangsung lama? Kalau memang lama, beritahu dulu sampai kapan. Biar aku siap-siap. Biar tak harus menangis ketika menelponmu. Biar tak harus lari ketika bertemu. Biar tak harus menundukkan kepala ketika besok berbincang (Ah, akankah masih ada besok?) Aku lebih suka tidak mendiskusikan mengapa dan bagaimana, tapi aku juga benci mengira-mengira. Lebih benci berprasangka. Kau pasti tak tahu kan, bahwa imajinasiku bisa saja menembus selokan lapis 7 ketika sudah begini. Kalau kata Kahitna, “...bila ku salah mengapa kau diam, mengapa kau tak bicara”

Seringkali kita terlalu sibuk menatap cela orang lain.
Maafkan ya. Terlalu banyak dosa ke banyak orang. Tenang, human error maupun kesalahan teknis ada padaku. He’em semuanya. Iya, termasuk lupa memastikan jumlah barang yang bisa dipakai sisa tahun kemarin. Iya, termasuk teledor menjaga koridor lantai 1 karena dialihkan dengan instruksi lain yang insidental. Bodoh. Iya, apalagi kalau bukan bodoh kalau dua tiga pekerjaan yang sebenarnya bisa dilakukan sekali stater (pengganti sekali dayung), tapi satu itupun baru setengah-setengah. Iya, termasuk mengabaikan sms-sms yangastaghfirullahal’adziim, itu sangat penting, sebenarnya harus ada kata yang lebih dari bodoh bagi sesiapa mengabaikan sms-sms ini. Yakin, aku minta maaf. Iya, termasuk tentang pendataan yang tidak kunjung rampung. Ada matriks di sisi kanan tempat tidur yang satu tanda centang pun belum pernah mendarat kepadanya. Ada event yang harusnya April lalu ke Mei lalu malah ke September. Simply speaking, banyak yang belum tuntas.

Haha. Ini sudah jelas, aku cemburu. Iri. Kata lain? Dengki? Hh, sepertinya iya...
Dua jari di kaki kiriku sepertinya punya tuntutan khusus. Ia tak mau diam saja di dalam sepatu. Tadi sore kuajak jalan-jalan berburu baskom dan centong setelah sebelumnya sok energik bikin track sprint di tangga gedung kuliah. Aku senang, tapi sepertinya dua jari kaki ini ganti mengajakku, untuk bersabar, untuk ingat umur. Aneh kok, ketika dibaringkan ia tidak akan secenat cenut saat digunakan beli makan di warung depan. Maksudku, walau cuma dibuat jalan sebentar.. Oya ding, mungkin ia sedikit butuh oli. Oke, satu, butuh oli. Dua, butuh CTM. Konsekuensi logis dari kebanyakan salto dan koprol atau kebanyakan sprint dan marathon adalah istirahat, tapi susah dilakukan akhir-akhir ini. Bukan, memangnya aku seperti orang rajin yang lembur dan produktif malam-malam. Bukan berarti aku knocturnal juga, aku tetap berkeliaran pada siang hari, tapi malam hari aku punya space yang lebih sempit, 3x4 meter. Penderitaan setidaknya dibersamai dengan tuts-tuts ini lagi. Klasik, tapi setia. Really I didn’t understand why sleeping nowadays does matter. 


Current time: 02: 25 AM (menarik selimut adalah kebijakan yang tepat)
Continue reading →

aku ikat rapat-rapat dengan tali rafia

3
05:14

Sudah aku tutup dengan kertas folio bergaris, bekas tugas Semantics
Aku lapisi lagi dengan kain perca motif bunga-bunga
Kemudian kubungkus dengan plastik bening
Bukan apa-apa, agar aku bisa memastikannya tetap disana
Bukan juga untuk membuatmu tahu kondisinya seperti apa

Kalau kau sekali waktu lihat plastik itu ikatannya agak terbuka
Kau bisa lakukan apa saja padanya
Sungguh
Kau bisa bebas membawanya pergi, tanpa sepengetahuanku
Kesempatan juga bagimu untuk merobeknya, lalu entah dicabik atau dibuang
Begitu saja
Tapi kau juga berhak mengikatnya kembali
Tapi tapi, itu sungguh tak akan berpengaruh apa-apa sekarang
Karena, oh ya..
Aku lupa ceritakan padamu, pada kalian,
Sekali ia terbuka, aku tidak akan hanya membungkus itu dengan plastik
Tapi aku juga akan mengikatnya dengan tali rafia
Rapat-rapat

Ini tidak hal mudah
Hh, bukan soal beli rafia
Bukan tentang kokot2an mengikat
Aku harus memastikan ia akan aman dengan tali rafia yang mengait
Percuma rapat kalo tidak aman, percuma kalo tidak melindungi

Karena akan kutinggal ia, jauh di dalam kapsul waktu
Biar kapan-kapan saja terbuka, biar tepat waktunya ia dibuka

(16:45, mencari jalan setapak yang mudah dihafal)
Continue reading →

Untuk Nemo #3

0
08:43

Aku benci kamu hari ini. Kamu seenaknya saja pulang sama Raisa. Aku sudah menunggu lama di dekat gerobag batagor Pak Kusno. Aku kira kita akan pulang bersama, kan tadi berangkatnya juga kita sepedaan bareng. Tadi pagi bertiga: aku, kamu, sama Joan. Siang ini aku sepedaan sendirian pulang ke rumah. Kamu pasti nggak tahu kalo Joan sudah pulang kan? Dia ada les bahasa Inggris jam 12. Pas mau ngajak pulang, aku bilang kalo aku mau bareng kamu aja. Bukannya kita mau liat lagi hamster lucu punya kak Nina kan?

Aku nunggu kamu sampai jam1, tauk! Ayah mau jemput aja aku suruh balik kantor. Tapi kamu malah boncengin Raisa. Kenapa sih? Raisa kan rumahnya cuma beda gang sama sekolah, jalan kaki aja dia bisa. Lagi juga biasanya dijemput Bundanya. Tak kirain tadi Raisa mau bareng liat hamster, tapi terus tadi kamu pake dadah dadah pas liat aku. Ngapain coba? Besok lagi pura pura nggak liat aja sana! Udah lupa janji, ninggalin temen juga. Bete! Aku baru paham kalo kadang-kadang kak Dewa bilang menunggu itu menyebalkan.

Tapi mana berani aku bilang? Mana berani aku teriak kalo kamu jahat? Aku cuma bisa nangis sambil nggowes. Bentar-bentar sepedanya aku tuntun, abis nggak keliatan jalannya apalagi kalo air matanya udah menuhin mata. Samar kalo buat ngeliat. Ini nangisnya mulai dari pas kamu dadah-dadah boncengin Raisa tau, sampe masuk kompleks. Pak Satpam tanya aku kenapa. Mau aku ceritain juga Pak Satpam nggak paham. Dia pasti nggak bisa mengerti masalah anak kecil. Hmm. Baru pas nyampe rumah bunda tanya (bunda kira aku nangis karena ayah nggak jemput), aku bilang kalo kamu ninggalin aku pulang. Kamu pulangnya bareng Raisa padahal aku udah nunggu lamaaaaa bangeeett.

Bunda cuma nepuk-nepukin kepala sambil nyuruh makan siang. Aku sebel, malah jadi nangisnya tambah kenceng. Terus bunda ngajak duduk, kayak kalo ngajak duduk Kak Dewa yang seharian abis maen PS mulu, terus bilang, “Jagoan bunda masak nangis cuma karena pulang sendirian? Cuma karena ditinggal satu temen? Coba itung, Nadia punya berapa temen di sekolah?” Dan karena aku males ngitung temenku di kelas II A sama kelas II B, aku ketawa (ditambah, bingung apa ibu guru sama pak guruku termasuk temen-temenku enggak). Bunda juga ketawa. 


Continue reading →

Untuk Nemo #2

0
08:29


     Kamu benar, Nemo. Matematika emang nggak semuanya mudah. Kemaren aja pas soal penjumlahan sama pengurangan pecahan bisa gampang-gampang, sekarang udah enggak lagi. Kalo aku boleh niruin yang bu Aning bilang, kita itu semakin kelasnya ke atas semakin susah pelajarannya. Kelas 3 kemaren kita mungkin belajar tentang pecahan, kalo sekarang kelas 4 mah belajarnya udah menghitung luas lapangan sepakbola....

     Kamu benar, Nemo. Matematika memang nggak semuanya mudah. Dulu cuma ada angka-angka terus ada tanda + (plus) sama tanda – (minus) terus kadang-kadang ada x (kali) sama : (bagi) dan = (sama dengan. Sekarang udah nggak lagi. Sekarang soalnya udah panjang panjaaang banget. Matematika udah kayak bahasa Indonesia aja, banyakan berupa cerita ya. Sekarang matematika juga udah sama gambar-gambar. Yang bentuknya kayak topi ultahnya Joan, yang bentuknya kayak bak kamar mandi. Yang kayak bola sepakmu juga ada...

     Kamu benar, Nemo. Matematika memang nggak semuanya mudah. Apalagi kalo tugasnya lagi banyaaaak banget. Masak ada tugas di buku paket, terus yang di LKS halaman 58-60 suruh dikerjain juga. Padahal kan soalnya samaan. Kata kak Dewa sih, bu guru wasting time. Aku udah berapa kali bilang ke Kak Dewa lho, kalo guru kita namanya bu Aning, bukang wasting time (kak Dewa paling gampang ngelupain nama orang).

     Kamu benar, Nemo. Matematika memang nggak semuanya mudah. Ulangan kemaren bisa dapat 100, hari ini siapa tahu. Sembilan puluh saja belum tentu. Ah, kata Joan nilai kan sebenarnya cuma buat ditulis di buku panjangnya bu Aning terus sama kertas ujiannya dikasih ke bunda. Terus ditandatanganin. Tapi aku kan nggak sepolos Joan, dari nilai itu kita bisa tau kita udah paham belum sama mata pelajaran matematika yang abis diajarin bu Aning. Joan nggak sadar kali ya kalo angka-angka yang ada di kertas ujian kita kan masuk di rapot. Diliat sama bundanya temen-temen...

     Kamu benar, Nemo. Matematika memang nggak semuanya mudah. Sains juga nggak semuanya mudah. Aku juga punya musuh di sains kayak aku sebel sama soal cerita di Matematika. Aku sebel kalo bu Aning udah njelasin nama awan. Nggak bisa ngapalin. Kemaren aja ya, pas kita belajar, kamu udah apal sampe bentuk-bentuk awannya, aku ngucapin namanya aja masih susah. Satu-satunya yang aku inget, adalah nama awan yang namanya kayak sapunya Harry Potter. Nimbus, iya kan Nem? Bahasa Indonesia juga nggak semuanya mudah. Apalagi musti bacanya harus cepet, harus bis nyeritain lagi isi ceritanya di depan kelas, etapi teksnya panjang-pangang...


Kamu benar, Nemo. Harusnya aku nggak secepat itu bilang aku suka matematika. Sok banget ya :D 
Continue reading →