aku ikat rapat-rapat dengan tali rafia

3
05:14

Sudah aku tutup dengan kertas folio bergaris, bekas tugas Semantics
Aku lapisi lagi dengan kain perca motif bunga-bunga
Kemudian kubungkus dengan plastik bening
Bukan apa-apa, agar aku bisa memastikannya tetap disana
Bukan juga untuk membuatmu tahu kondisinya seperti apa

Kalau kau sekali waktu lihat plastik itu ikatannya agak terbuka
Kau bisa lakukan apa saja padanya
Sungguh
Kau bisa bebas membawanya pergi, tanpa sepengetahuanku
Kesempatan juga bagimu untuk merobeknya, lalu entah dicabik atau dibuang
Begitu saja
Tapi kau juga berhak mengikatnya kembali
Tapi tapi, itu sungguh tak akan berpengaruh apa-apa sekarang
Karena, oh ya..
Aku lupa ceritakan padamu, pada kalian,
Sekali ia terbuka, aku tidak akan hanya membungkus itu dengan plastik
Tapi aku juga akan mengikatnya dengan tali rafia
Rapat-rapat

Ini tidak hal mudah
Hh, bukan soal beli rafia
Bukan tentang kokot2an mengikat
Aku harus memastikan ia akan aman dengan tali rafia yang mengait
Percuma rapat kalo tidak aman, percuma kalo tidak melindungi

Karena akan kutinggal ia, jauh di dalam kapsul waktu
Biar kapan-kapan saja terbuka, biar tepat waktunya ia dibuka

(16:45, mencari jalan setapak yang mudah dihafal)
Continue reading →

Untuk Nemo #3

0
08:43

Aku benci kamu hari ini. Kamu seenaknya saja pulang sama Raisa. Aku sudah menunggu lama di dekat gerobag batagor Pak Kusno. Aku kira kita akan pulang bersama, kan tadi berangkatnya juga kita sepedaan bareng. Tadi pagi bertiga: aku, kamu, sama Joan. Siang ini aku sepedaan sendirian pulang ke rumah. Kamu pasti nggak tahu kalo Joan sudah pulang kan? Dia ada les bahasa Inggris jam 12. Pas mau ngajak pulang, aku bilang kalo aku mau bareng kamu aja. Bukannya kita mau liat lagi hamster lucu punya kak Nina kan?

Aku nunggu kamu sampai jam1, tauk! Ayah mau jemput aja aku suruh balik kantor. Tapi kamu malah boncengin Raisa. Kenapa sih? Raisa kan rumahnya cuma beda gang sama sekolah, jalan kaki aja dia bisa. Lagi juga biasanya dijemput Bundanya. Tak kirain tadi Raisa mau bareng liat hamster, tapi terus tadi kamu pake dadah dadah pas liat aku. Ngapain coba? Besok lagi pura pura nggak liat aja sana! Udah lupa janji, ninggalin temen juga. Bete! Aku baru paham kalo kadang-kadang kak Dewa bilang menunggu itu menyebalkan.

Tapi mana berani aku bilang? Mana berani aku teriak kalo kamu jahat? Aku cuma bisa nangis sambil nggowes. Bentar-bentar sepedanya aku tuntun, abis nggak keliatan jalannya apalagi kalo air matanya udah menuhin mata. Samar kalo buat ngeliat. Ini nangisnya mulai dari pas kamu dadah-dadah boncengin Raisa tau, sampe masuk kompleks. Pak Satpam tanya aku kenapa. Mau aku ceritain juga Pak Satpam nggak paham. Dia pasti nggak bisa mengerti masalah anak kecil. Hmm. Baru pas nyampe rumah bunda tanya (bunda kira aku nangis karena ayah nggak jemput), aku bilang kalo kamu ninggalin aku pulang. Kamu pulangnya bareng Raisa padahal aku udah nunggu lamaaaaa bangeeett.

Bunda cuma nepuk-nepukin kepala sambil nyuruh makan siang. Aku sebel, malah jadi nangisnya tambah kenceng. Terus bunda ngajak duduk, kayak kalo ngajak duduk Kak Dewa yang seharian abis maen PS mulu, terus bilang, “Jagoan bunda masak nangis cuma karena pulang sendirian? Cuma karena ditinggal satu temen? Coba itung, Nadia punya berapa temen di sekolah?” Dan karena aku males ngitung temenku di kelas II A sama kelas II B, aku ketawa (ditambah, bingung apa ibu guru sama pak guruku termasuk temen-temenku enggak). Bunda juga ketawa. 


Continue reading →

Untuk Nemo #2

0
08:29


     Kamu benar, Nemo. Matematika emang nggak semuanya mudah. Kemaren aja pas soal penjumlahan sama pengurangan pecahan bisa gampang-gampang, sekarang udah enggak lagi. Kalo aku boleh niruin yang bu Aning bilang, kita itu semakin kelasnya ke atas semakin susah pelajarannya. Kelas 3 kemaren kita mungkin belajar tentang pecahan, kalo sekarang kelas 4 mah belajarnya udah menghitung luas lapangan sepakbola....

     Kamu benar, Nemo. Matematika memang nggak semuanya mudah. Dulu cuma ada angka-angka terus ada tanda + (plus) sama tanda – (minus) terus kadang-kadang ada x (kali) sama : (bagi) dan = (sama dengan. Sekarang udah nggak lagi. Sekarang soalnya udah panjang panjaaang banget. Matematika udah kayak bahasa Indonesia aja, banyakan berupa cerita ya. Sekarang matematika juga udah sama gambar-gambar. Yang bentuknya kayak topi ultahnya Joan, yang bentuknya kayak bak kamar mandi. Yang kayak bola sepakmu juga ada...

     Kamu benar, Nemo. Matematika memang nggak semuanya mudah. Apalagi kalo tugasnya lagi banyaaaak banget. Masak ada tugas di buku paket, terus yang di LKS halaman 58-60 suruh dikerjain juga. Padahal kan soalnya samaan. Kata kak Dewa sih, bu guru wasting time. Aku udah berapa kali bilang ke Kak Dewa lho, kalo guru kita namanya bu Aning, bukang wasting time (kak Dewa paling gampang ngelupain nama orang).

     Kamu benar, Nemo. Matematika memang nggak semuanya mudah. Ulangan kemaren bisa dapat 100, hari ini siapa tahu. Sembilan puluh saja belum tentu. Ah, kata Joan nilai kan sebenarnya cuma buat ditulis di buku panjangnya bu Aning terus sama kertas ujiannya dikasih ke bunda. Terus ditandatanganin. Tapi aku kan nggak sepolos Joan, dari nilai itu kita bisa tau kita udah paham belum sama mata pelajaran matematika yang abis diajarin bu Aning. Joan nggak sadar kali ya kalo angka-angka yang ada di kertas ujian kita kan masuk di rapot. Diliat sama bundanya temen-temen...

     Kamu benar, Nemo. Matematika memang nggak semuanya mudah. Sains juga nggak semuanya mudah. Aku juga punya musuh di sains kayak aku sebel sama soal cerita di Matematika. Aku sebel kalo bu Aning udah njelasin nama awan. Nggak bisa ngapalin. Kemaren aja ya, pas kita belajar, kamu udah apal sampe bentuk-bentuk awannya, aku ngucapin namanya aja masih susah. Satu-satunya yang aku inget, adalah nama awan yang namanya kayak sapunya Harry Potter. Nimbus, iya kan Nem? Bahasa Indonesia juga nggak semuanya mudah. Apalagi musti bacanya harus cepet, harus bis nyeritain lagi isi ceritanya di depan kelas, etapi teksnya panjang-pangang...


Kamu benar, Nemo. Harusnya aku nggak secepat itu bilang aku suka matematika. Sok banget ya :D 
Continue reading →

kau harus berjanji padaku

1
08:47


Jangan mundur sekarang
selangkah saja kita teredam maka habislah
tetap di situ
meski sepenat apapun
meski terlihat sulit
meski sepertinya tak mungkin
meski harus berkorban banyak hal
meski dibenci
meski kau disuruh pergi
meski durasi sebentar lagi akan habis
meski kau tak dipertimbangkan
meski sendirian, tak berkawan,  tak bersekutu
meski sabar hampir sampai ujung

Tetap disitu. Janji? Pinky swear?



Continue reading →

‘dandelion yang jatuh dari tangkainya tak pernah membenci angin...’

0
08:59


Sebelumnya, kuterangkan dulu siapa aku sebenarnya. Mungkin tidak penting, ini juga hanya untuk memuaskan keinginanku, keinginan terhadap kejelasan posisi. Aku kapok pada penghakiman-penghakiman dini yang asal kasih cap, asal kasih stigma. Aku ingin orang-orang memandangku secara lebih objektif. Itu saja.

Maka aku jelaskan bahwa aku hanya sebagai penutur. Entah orang ke berapa yang berusaha bercerita. Tentang apa? Semua. Semua hal. Sudah pernah kubilang belum, aku suka bercerita. Dan meskipun bukan urusanmu, sekali lagi, ini menjadi penting untuk memperjelas posisiku. Pencerita. Dan sore ini aku sudah lelah berujar, penat benar mendongeng, maka kurebahkan saja tubuhku. Sekenanya. Di tengah ilalang ini. Kalo mau lebih tepat, padang ilalang.

Tak pernah begitu peduli pada rumput-rumput ilalang yang tidak ramah, sepertinya memang pekerjaan mereka untuk membuat gatal dan tidak nyaman orang yang berbaring di atasnya. Tapi kali ini ada yang mengalihkan perhatianku untuk tidak menggaruk-garuk bagian tubuh yang kena ‘ranjau’ ilalang. Serbuk-serbuk yang entah darimana—putih, lembut. Untuk memenuhi kriteria sebagai orang yang normal, aku merasa ingin tahu. Aku berjalan saja mencari, tak sadar itu ternyata berlawanan dari arah angin yang membawa serbuk aneh tadi kepadaku. Toh berhasil. Ia, bersembunyi dibalik rumput liar dan rumput gajah tinggi-tinggi itu. Sudah kuduga, ia sejenis tanaman.



Itu terjadi sudah cukup lama, dan aku hanya sebatas tahu bahwa ia sejenis tanaman. Asal muasal serbuk putih nan lembut itu adalah dari bebungaan. Hingga ketika suatu hari ditakdirkan atasku, aku mendengar namanya. Dandelion. Menurutku itu nama yang ajaib, dan ironis. Seperti berharga mahal sekali, -llion-nya itu lho, mirip million, billion. Terdengar mahal, tapi ternyata setiap kali berjumpa dengan mereka—sekelompok Dandelion itu, selalu jauh dari taman-taman hias. Justru berada bersama rumpu-rumput kelas bawah. Grass root.

Sungguh warnanya hanya putih, jika ingin dipertegas, putih berdebu. Bukan seperti mawar yang cantik jelita apalagi matahari yang cerah ceria. Seperti anggrek juga bukan, yang punya banyak kawan berkostum tidak seragam di berbagai tempat,  ia hanya punya satu varietas. Yang warnanya putih, putih berdebu itu tadi. Tapi, putih bukannya tentang kesederhanaan? Putih bukannya tentang ketenangan? Ia membuat iri. Bahkan dalam medan liar, ia tetap tenang. Bahkan ketika warna adalah mahkota yang luar biasa, hal yang paling dibanggakan dari sebuah bunga, ia cukup berterima dengan warna yang sesederhana itu...

Ia kecil, tapi dia tegak. Siapa pula yang sebenarnya akan mempedulikan hal ini. Bunga kelas pinggiran seperti dia toh jarang dilirik. Namun Dandelion tahu benar makna keteguhan. Ia tahu benar bagaimana sikapnya itu suatu kali akan menghasilkan sesuatu. Ia tahu bahwa tak gentarnya berada di sekitar rumput yang mulai menguning akan mengantarnya pada banyak hal yang menantang.

Dan ketika angin sudah datang, serabut-serabut putih itu terenggut. Sebenarnya bodoh. Dalam keadaan seperti ini saja mereka masih setia. Bagaimana tidak? Begitu mudah dia percaya pada sesepoi angin yang entah meniupnya kemana. Dengan anggun, ia rela terbebas ke udara, meliuk menyapu ilalang, kadang berseteru dengan apa yang menghalanginya. Dengan lembut ia menari, seolah berteriak ingin menyaingi daun ‘Dandelion yang jatuh dari tangkainya tidak pernah membenci angin...’

Begitulah ia setia mengikuti angin. Dandelion mungil nan pucat itu tak tahu arahnya kemana. Entah ia punya keyakinan sebesar apa. Yang ia tahu toh hanya ia terbang. Diterbangkan angin. Ke suatu tempat. Selesai. Dan setelah itu tak satupun tahu keberadaan dirinya, sekelompok serbuk putih—atau bahkan dengan unit yang lebih besar, segerombolan bunga Dandelion lain tak satupun tahu kemana arah serabut halus lembut itu terbang. Kadang aku sampai bertanya-tanya, kalau sampai jingganya senja datang dan dia belum berhenti terbang, apakah dia punya waktu istirahat untuk sekedar merebahkan diri? Kenapa sepertinya tak adil baginya? Dia kan pasti capek...

Tapi lihat, dengan perginya serbuk Dandelion itu, ia hanya berpindah tempat. Di tempat lain, ia bahkan melakukan hal hebat: menciptakan kehidupan baru. Dandelion yang rapuh tapi perkasa, sok banget memang, berjuang untuk hidupnya saja pelik—dalam beberapa kesempatan aku mengamati ia terinjak, tapi ia mencoba untuk berjuang bagi kehidupan (baru) untuk yang lainnya. Ia kuyu, tapi ia membuktikan tak butuh air dari tempayan manapun untuk sekedar membuatnya hidup. Ia membuktikan tak butuh jadwal pemupukan rutin untuk dapat membuatnya bertahan.


“Suatu saat nanti Dandelion itu akan kembali ke tempat itu, tempat dimana dia pernah berada.. Disana.. Dia rindu tempat itu..”



Continue reading →

tidak pernah lebih dari segenggam gandum

3
01:31



Aku tidak pernah memintamu lebih dari segenggam gandum. Karena aku yakin dengan ini saja aku sudah kenyang. Aku sudah tak lapar lagi. Bahkan aku tak pernah untuk sekedar menginginkannya. Gandum itu tidak seperti bubur yang ketika baru dihabiskan, maka lapar seakan punya ruang meminta. Gandum itu long-lasting. Jadi, aku pikir ‘segenggam’ adalah porsi pas untukku. Aku rasa kita sudah selesai dengan hal ini.

Aku tidak pernah memintamu lebih dari segenggam gandum. Karena aku tak punya bungkus, aku tak punya plastik untuk mengantungi lebih dari segenggam yang bisa kubawa. Toples juga tak punya, toples kemarin sudah usang. Susah membawa yang berat-berat, segenggam kan paling cuma berapa ons. Lebih-lebih, aku tak punya banyak cadangan perencanaan mau dimasak apa nanti kalo lebih dari itu. Perkara gandum saja sampai harus dibuat resep. Ah, membuat bingung. Aku anggap kau sudah tau tentang hal ini.

Aku tidak pernah memintamu lebih dari segenggam gandum. Karena aku tahu sekarung penuh gandum itu masih ada yang punya. Entah segenggam milik siapa, sekilo punya siapa, seplastik hak siapa. Walau aku tak tahu baik, tapi aku paham jatahku. Bukan, kamu pikir aku sok peduli sama orang lain. Aku tidak takut mereka tidak makan, yang lainnya tidak kebagian, yang lainnya tidak mendapat jatah. Aku hanya tak mau mengkhianati apa itu adil. Aku kira kita sudah sepaham dengan hal ini.

Aku tidak pernah memintamu lebih dari segenggam gandum. Karenanya, kalau ada yang minta lebih, itu bukan aku. Hey, mungkin mereka memang butuh lebih. Dia memang suka gandum, atau dia ingin menyimpannya untuk cadangan, atau dia sedang ada program penggemukan, emm atau dia hanya makan gandum dan tak ada yang dia makan selain itu. Maka silakan berikan. Tapi jangan berikan padaku. Karena tawaranmu akan sia-sia. Kalau yang ini, aku pikir  kau jelas tak butuh keterangan lain.

Aku tidak pernah memintamu lebih dari segenggam gandum. Karena aku memang hanya membutuhkan itu darimu. Aku pikir kau benar-benar sudah tak perlu mendapat penjelasan lebih dariku tentang ini.
Continue reading →

"Anak ke berapa?"

3
01:20

Kenapa embak pergi jauh sebelum aku bisa mengenal embak?

bahkan jauh sebelum aku dilahirkan

harusnya aku bisa punya embak mbak

jadi aku bisa cerita kalau aku habis dapat 5 di ulangan logaritma

dan baru saja ada teman laki-laki sekelasku yang SMS tapi tumben

tidak menanyakan tugas


Continue reading →