Percobaan Fiksi Fakta

0
05:10

“Kita berteman. Berteman yang seperti ini. Aku tidak malu mengakui kalau kita sedang bergerak ke arah yang sama. Walaupun aku pikir titik temu kita, itu.. aku pun masih belum jelas melihat, aku pikir aku mengharapkan itu terjadi”
“Maka sudah, tetaplah seperti ini”
“Aku rasa ini tidak benar. Bagaimana bisa kita menyemai padahal belum saatnya?”
“Pasti akan datang saatnya, Fara..”
“Hingga saat itu, aku akan menyimpannya di tempat yang rapi, yang tidak usah kita bicarakan lagi,”
“Kita akan sama sekali tidak berkomunikasi setelah ini.”
“Bukan, justru kita tetap berkomunikasi, tapi jangan pernah membuka ini lagi. Bukan putus silaturahim, Lang, tapi mengenai hal satu itu, ah kita sebelumnya harus sepakat dulu untuk menyimpannya kan?”
“Baiklah. Tapi kalau kita bertemu, apa yang akan..”
“Biasa saja, sewajarnya. Aku punya klakson untuk bisa menyapamu saat di atas motor, aku bisa berbincang tentang kota kelahiran kita atau hobi masing-masing saat tidak sengaja tatap muka. Asal kita menghindari topik satu itu..”
“Aku mengerti, aku akan menyimpannya di tempat yang sangat rapi.”
***

Kupegang ponselku lebih erat, ponsel ini hampir saja lepas dari tanganku ketika bapak supir mengerem mendadak barusan. Ada Ibu pengendara sepeda motor yang tiba-tiba menyeberang. Ibu itu bukan hanya sukses membuat ponsel ini hampir jatuh tapi juga membuyarkan lamunanku atas kejadian setahun silam. Aku mulai jengah, berperjalanan sendirian seperti ini sangat mudah membuat fikiran kemana-mana.

Lagi-lagi kenangan itu. Percakapan yang hanya tersampaikan melalui SMS. Pengakuan yang apa adanya, namun berbuntut panjang. Mengakui saling suka, dan mencoba menyimpan. Apa-apaan ini? Sama saja artinya menjalin kasih tapi tidak bertemu, toh kita sama-sama saling menjamin bahwa hati kita sudah dimiliki satu sama lain. Bersikap sewajarnya? Sikap barangkali bisa wajar, rasa yang tidak. Bagaimana bisa aku berfikir kalau pertemuan di gerbang fakultas tidak membuatku berdebar setengah mati? Bagaimana mungkin aku berfikir kalau membalas pesanmu, aku rasanya ingin mengungkap hal lain yang tidak boleh kita bincangkan. Janji macam apa?

Aku keluarkan permen karet dari dalam tas. Setidaknya selain melihat ke luar jendela lalu melamun, aku punya pekerjaan lain. Mbak-mbak di sebelah tempat dudukku sedang pulas, aku bersyukur tidak usah basa basi menawarinya. Terakhir kali aku menawari permen karet pada penumpang sebelahku, dia anak 7 tahunan, tersedak dan malah menelannya. Sang ibu menggumam-gumamkan kemarahan padaku sambil menepuk-nepuk punggung anaknya. Bis jurusan Jogja-Solo yang kutumpangi sekarang sudah masuk Klaten. Dia, ada dimana? Sudah lama tidak melihatnya, melihatnya pun tidak, apalagi menyapa, apalagi berbincang. Gilang. Bagaimana kabarnya? Hh, bodoh, kenapa malah ingin tahu kabarnya..

Hampir satu tahun yang lalu itu terjadi. Mau tidak mau aku memanggil memori itu lagi. Sangat mudah menemukannya, akhir-akhir ini. Aku tak paham benar mana awalnya, tapi kami kenal di SMA. Ya, aku dan Gilang bersekolah di SMA yang sama. Semuanya biasa saja, menurutku, karena kita benar-benar teman. Kecuali karena kita saling bercerita, tak ada yang istimewa. Tapi aku melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi yang sama denganku, ah atau sebaliknya. Hanya beda fakultas, hanya beda disiplin ilmu. Seperti layaknya mahasiswa rantau lain, mereka punya kecenderungan untuk, yaah dekat, dengan mahasiswa lain yang berasal dari daerah yang sama.

Dan lalu semuanya mengalir, hampir begitu saja mengalir. Komunikasi lewat sms dan chat, obrolan langsung yang singkat, sering papasan di jalan. Perasaan nyaman yang wajar dirasakan ketika saling nyambung, membuat kami semakin dekat. Saat itu, jangan pun berbicara tentang rasa, menyinggung pun tidak. Kami sih sok profesional. Tapi, barangkali awal merah jambu menjadi nyata adalah saat ulang tahunku di penghujung tahun. Sampai pada ingatan ini, aku terkekeh sendiri. Rasa permen karet stroberi yang kukunyah sekarang sangat manis. Gilang memberiku sekotak roti dan... setangkai mawar merah segar! Dasar melankolis, pikirku. Aku tak berani bilang ke siapapun kecuali salah seorang sahabatku di kelas. Dia justru yang jejingkrakan kegirangan dan dengan tak sabar meminta aku menceritakannya. Dia protes karena aku tampak datar-datar saja. Tapi tahukah, aku bahkan bingung mengartikan dua benda ini. Apa ini? Maksudnya? Roti barangkali wajar. Bunga??

Aku tersenyum dan membenarkan letak dudukku. Masih satu jam setengah untuk sampai ke kota kelahiran. Setelah kilas balik tentang roti dan bunga, memori ini lalu mengurai komunikasi-komunikasi itu. Mulai dari papasan di bawah pohon flamboyan lalu salah tingkah,  hingga chat facebook yang dibiarkan tertulis “Fara is typing....” Lang, kamu tidak tahu kan, sulit benar aku pilih kata-kata. Bukan, bukan agar kau menyukainya, bukan agar kau setuju dengan apa yang aku sampaikan. Hanya, aku takut kalau semuanya akan menjadi jelas, perasaanku. Salah-salah bisa keceplosan dan diluar batas. Hm, kejadian-kejadian ini terus mengalami repetisi. Dulu, cinta adalah sesuatu yang aku rasakan hanya di pandangan pertama, aku tidak tahu aku bisa terbenam perlahan.

Bis mengerem mendadak. Buyar lagi. Kali ini faktor penumpang. Seorang bapak tergopoh-gopoh turun setelah sebelumnya mengetuk-ngetukkan uang logam ke kaca bis. Mas kernet memaki. Aku membolak-balikkan ponselku, kubuka kunci layar, kututup lagi. Hingga lampu layar padam, kubuka kunci lagi, lalu menunggu hingga layar mati dan terkunci, baru aku buka lagi. Aku tidak tahu bagian mana yang membuatku paling gusar, toh bersahabat dengan kenangan manis seharusnya membuat lebih tenang. Tapi menurutku, ada sesuatu yang salah di sini. Yang kupikirkan satu bulan terakhir. Janji itu..

Kali ini aku benar-benar membuka layar kunci dan masuk ke pesan. Mencari namanya di daftar pesan semudah mencari namanya di rekaman memori. Aku runut satu persatu, beberapa pesan kubaca berulang-ulang, sisanya ada jarkoman event kampus atau lomba-lomba fotografi. Gilang suka sekali hal itu, terkadang satu dua jepretan dia bagi di jejaring sosial. Tajam dan punya makna, setidaknya itu penilaian dari seorang yang tak tahu apa-apa tentang fotografi.

Aku sudah hampir menuliskan pesan kalau tidak ditanyai oleh mbak yang duduk di sebelahku. Dia bertanya sudah sampai mana. Dari sejak naik di Babarsari, mbak satu ini tidur pulas. Dia lalu berujar bahwa tujuannya masih jauh dan dari tingkahnya membenarkan posisi duduk, sepertinya ia akan melanjutkan tidur. Benar saja, sambil memeluk tas punggungnya, ia mengatupkan mata lagi. Apa yang mau kutulis barusan? Aku menghela nafas, dalam. Udara di dalam bis tidak terlalu pengap, aku duduk di belakang mas kernet, sirkulasinya bagus. Kupandangi lagi layar HP, pointer sudah ada di bagian ‘enter message’. Apakah aku, benarkah tidak apa-apa jika sekarang mengiriminya pesan?

Kutekan-tekan tombol Undo hingga akhirnya layar utama yang tampil di depanku. Kukunci layar. Menghela napas lagi. Tapi tidak, sekarang ini barangkali memang waktu yang tepat mengungkapkan padanya. Sekarang ini, barangkali waktu yang tepat untuk berkirim pesan. Sekarang ini, setelah sudah tidak bertemu lama sekali. Sekarang ini, di perjalanan yang membuatku mengingat semuanya. Sekarang ini, barangkali tidak ada waktu yang sesempurna sekarang ini.

“Gilang. Apa kabar? Lagi dimana sekarang?” Daripada hanya menanyakan kabar dan menanggung resiko Gilang tak membalas—meskipun ia bukan orang yang dengan mudah mengabaikan SMS, kutambahkan pertanyaan tadi.

“Aku sehat. Kamu gimana? Lagi di Solo, di stasiun..”

“Mau ke Jogja? Aku malah baru mau pulang, hehe, kita slisipan ya” Aku lebih suka meninggalkan kalimat tanpa tanda baca kalau itu bukan kata tanya. Janggal saat melihat beberapa orang memilih menggunakan tanda titik di akhir kalimat yang seperti ini. Titik dua atau tiga tidak masalah, tapi bagiku titik satu seperti segera ingin mengakhiri SMS, atau tidak terlalu berkenan dengan apa yang orang lain sampaikan hingga dia menambahkan titik satu disitu, ketegasan.

“Haha, iya :D” Emotikon. Cukup titik dua dan satu huruf itu, atau kalau tidak titik dua tutup kurung, maka sepertinya semua akan tampak baik-baik saja. Kali ini, apakah Gilang mungkin juga sedang berpura-pura? Ah, prasangka..

“Lagi sibuk nggak, Lang?”
“Enggak, lagi baca novel aja kok. Gimana?”
“Mm bukan, maksudku, dalam waktu dekat ini ada agenda apa gitu, di kampus? HIMA lagi sibuk nggak?” Gilang adalah ketua himpunan mahasiswa di jurusannya. Aku tahu aku mungkin sering mengganggunya bahkan saat dia ada agenda, SMS-SMS tidak penting. Bodoh, tetap saja dia layani.

“Enggak kok, lagi baru selesai ngadain acara minggu kemaren. Kenapa, Ra?”

“Kalo kuliah, ada ujian nggak waktu deket ini? Project dari dosen gitu, misalnya? Ada nggak?” Ada hal penting yang aku ingin katakan, aku harus memastikan kalau rentang waktu dekat ini dia tidak sedang disibukkan oleh sesuatu. Barangkali aku yang mendramatisir, berlebihan hingga sampai bertanya seperti itu. Gilang mungkin heran, maunya apa anak satu ini? Bertanya sebegitu detail.. Pesan alasan darinya datang setelah 5 menit SMSku padanya tadi terkirim.

“Fara? Ada apa to? Aku nggak lagi sibuk ujian kok, kemarin kan minggu mid-term, ingat?”
“Okee. Gini Lang, ada yang aku sampaikan. Boleh?”
“Boleh. Menyampaikan apa, Ra?”

“Ini tentang isi SMSan kita satu tahun yang lalu, iya bulan Maret tahun lalu. Kita bikin janji buat nyimpen rasa suka itu, hingga saatnya nanti datang, kita baru boleh membukanya. Kan? Aku akhir-akhir ini berfikir kalau ini tidak benar. Kalau seperti ini, berarti kita sudah saling ngecim. Bahwa aku harus denganmu, dan sebaliknya. Padahal Lang, bagaimana kita bisa dengan mudah menentukan semua itu? Jodoh.. ada di tangan-Nya.”

Tak sadar badanku bergetar menuliskan kalimat terakhir di SMS itu, 4 layar. Sesak sekali rasanya. Iya, satu bulan terakhir ini aku berfikir untuk mengatakannya. Berfikir keras bagaimana aku akan mengatakan dengan benar. Harus bertemukah? Atau aku telepon saja? Tapi justru sekarang aku hanya mengiriminya pesan. Pengecut memang. Aku kecut kalau bertemu, aku semakin tidak bisa mengatakannya. Aku kecut kalau menelepon, nada suara tetap tidak bisa dihobongi. Hei, aku butuh berpura-pura tegar mengatakan hal barusan. Aku butuh berpura-pura kuat dan dewasa.

Kutangkupkan ponsel di tanganku. Belum ada nada getar. Gilang belum membalas. Aku edarkan ke jendela. Mataku sudah berair, aku hanya berharap tidak tergugu di sini. Memalukan, menangis di dalam bis. Seperti anak yang tidak dibelikan mainan oleh ibunya di pasar. Sudah masuk Solo. Sebentar lagi aku sampai. Mungkin sebentar lagi Gilang berangkat.

Aku terkesiap, ponselku bergetar. “Maaf Fara, aku membuatmu seperti ini. Maaf atas kesalahanku selama ini.. Lalu, menurutmu sekarang bagaimana? J” Emotikon lagi. Sok benar dia. Gilang pikir titik dua kurung tutupnya kelihatan emotikon smile? Justru sekarang ini tampak mengerikan. Paradoks.

“Hanya kamu yang salah? Aku juga, Lang. Aku bahkan setelah memendamnya, lalu memupuknya dan berharap yang aku tanam itu, akan bersemi. Aku minta maaf sudah mengatakan ini, takut benar kalau kamu tersinggung” Aku sudah tekan tombol “Send” dan baru menyadari aku belum menanggapi satu pertanyaannya. Apa yang dirasakan Gilang sekarang ini? Perasaan sejatinya sekarang, seperti apa?

Aku yang mengatakannya lebih dulu. Maka jelas, aku yang harus mengendalikan. Aku tahu aku harus mengendalikan perasaanku sebelum dengan begitu yakin menyampaikan ini pada Gilang. Ah, bohong benar. Sekarang kristal-kristal itu sudah meleleh, berjatuhan di layar ponsel. Aku menengadahkan kepala, sekarang apa? Aku juga tidak tahu harus bagaimana, Lang. Kenapa bahkan kau tidak coba untuk menyanggah apa yang aku sampaikan? Mengatakan bahwa apa yang aku bilang salah adalah benar, mengatakan bahwa kita yang seperti ini sudah benar adanya, mengatakan bahwa tidak ada yang harus direvisi dengan janji kita tempo lalu.

Gilang membalas pesanku, kali ini tidak terlalu lama. “Fara... J Terimakasih atas selama ini. Aku tidak apa-apa, kamu juga baik-baik saja kan? Apa yang Fara inginkan sekarang?” Apa-apaan lagi ini? Apa yang aku inginkan, hah?? Sekarang aku menginginkanmu, Lang. Kah kau tidak tahu? Aku mendongakkan kepalaku lagi, sekarang air mata sudah bergulir besar-besar. Sesak sekali rasanya, tapi harus kutuntaskan..

“Dulu kita menyimpannya, mengubur di tempat yang kita sama-sama tahu. Sekarang lebih baik, kita buang jauh-jauh, dipendam di tempat yang kita tinggalkan tanpa tanda. Biar saja bila tidak ditemukan, toh ada yang lain yang akan menemukannya. Kita hidup masing-masing”
“Menurutmu begitu lebih baik?”
Dia mengujiku, tapi sudah terlalu jauh untuk berbalik. “Iya.. J Bagaimana?” sekarang giliran aku yang membuat kepalsuan. Emotikon yang paradoks.
“Aku setuju. Semoga kita bahagia di hidup kita masing-masing. Sukses..”

Saat ini aku benar-benar tidak tahu harus membalas apa. Berpura-pura baik-baik saja dan tetap mengamini? Tugasku sudah selesai, membuatnya bersepakat dengan apa yang aku ungkapkan. Kuusap sudut-sudut mataku. Aku tidak tahu ujungnya akan seperti apa nanti, apakah benar-benar tidak ada interaksi sama sekali, bilakah ada pasti akan sangat canggung. Aku belum bisa membayangkan apakah masih bisa tersenyum dan mengklaksonnya saat bertemu di depan gerbang fakultas.

Ponselku bergetar lagi. Kubuka layar kunci. Gilang. “Ra, Sherlock Holmes yang series kemarin, sudah ada lanjutannya lagi belum? Aku baru punya yang ke-4..”

Apa yang kau inginkan sekarang, Lang? Mencoba berdamai dengan perasaan? Kau saja. Aku belum. Aku masih susah payah mengelap pipi, membersihkan sudut mata, membersihkan layar ponsel yang basah. Bagaimana bisa secepat itu mengalihkan topik, seolah sms yang aku kirim barusan hanya “Harga nasi telor sekarang naik jadi lima ribu..” Kamu ingin aku membalas apa?

Memang baru sampe 4 kok, Lang. Mungkin yang selanjutnya belum release, kemaren aku cari juga belum ketemu.. Biasa download dimana?”
“Minta dari temen kos, hehe.. Udah sampe rumah, Ra?”
“Ooh, dia suka Sherlock Holmes juga? Belom, ini baru turun dari bis Solo, ganti bis” Aku sudah turun dari bis tadi, mencari bis kecil untuk melanjutkan perjalanan ke rumahku. Terminal ramai sekali tapi bis menuju ke daerahku tidak ada satu pun.
“Eh Ra, udah dulu ya. Keretaku datang..”

Aku mematung. Bulir air mata itu mengalir lagi. Keretaku datang.. Aku sampai dan dia berangkat. Kucari keranjang sampah dekat tempatku berdiri, membuang permen karet stroberi yang dari tadi kukunyah. Sekarang sudah tidak legit. Pahit.
***

Mb ma, beberapa puzzle memang tak sama, hanya ini yang bisa kulakukan untuk mendokumentasikan.. 

About the author

Donec non enim in turpis pulvinar facilisis. Ut felis. Praesent dapibus, neque id cursus faucibus. Aenean fermentum, eget tincidunt.

0 comments: